Kumpulan Puisi Fariq Rizkia Kemal

24 Agustus 2026

Negara

hanya satu nomor yang kusimpan 

kepada ialah kusampaikan kebingungan: 

ibu saya hilang. sejak tadi siang 

ia musnah bersama tungku yang usang 

ia musnah bersama sedap bau masakan 

bisakah di dapur ibu kau rasakan 

sebutir kesejahteraan? 

“…”

hanya satu nomor yang kusimpan 

kepada ialah kumemohon pertolongan: 

ayah saya mati. sebab di waktu petang 

ia pulang tak membawa uang 

ia pulang disepak kaki atasan 

bisakah di saku ayah kau temukan 

selembar keadilan? 

“…”

hanya satu nomor yang kusimpan 

hingga kini tak kutahu milik siapa 

sekolah memberikan makanan 

bukan pelajaran membaca 

jadi tak kupahami 

kontak yang sering kuhubungi 

bernama: negara.

Kita Sampai di Rumah Kertas

kita sampai di rumah kertas 

tiba ibu dari swalayan 

sekilo pusing jatuh di teras 

serenceng marah di meja makan. 

kita sampai di rumah kertas 

lama bapak tinggal di dapur 

masak dengan hati yang panas: 

pusing dan marah yang menganggur. 

kita sampai di rumah kertas 

pergi aku ke daun pintu 

oleh negara disambut antusias 

menyerah korek ia bertamu.

Rambu-Rambu Buram-Buram

setiap waktu kumemburu rambu-rambu dalam

hidupku. buram-buram tak seperti 

lampu lalu lintas di jalan itu.  

sekali saja anganku menginginkan sesuatu yang

merah. sekali saja marah kepadaku 

setelah menjelma bahtera yang mematuhi arah

ombak hanya untuk mematahi 

semua muara.  

sekali saja mimpiku terjaga oleh sesuatu yang

kuning. sekali saja kenang masa lalu 

agar bisa menjelma isyarat yang tidak

kunang-kunang di masa depan walau 

terlampau jauh untuk tangan pendekku. 

sekali saja harapku menghirup sesuatu yang hijau.

sekali saja hirau terhadap daun 

yang menangkap bujukan menari dari angin

sebagai suruhan untuk jatuh dan 

mengungkap bahwa tanah adalah pemberhentian

terakhir yang mampu 

memangkunya. 

sekali saja.

Pikiranku

pikiranku tidak mengenal cuti 

dari pekerjaannya melucutiku. 

pikiranku gemar sekali bekerja 

demi gaji yang telah disepakati 

berupa hati yang memar-memar. 

pikiranku lembur setiap waktu 

menghasilkan lembar demi lembar 

persoalan yang belum disoalkan. 

pikiranku juga bisa meramal tentang  

masa depan yang jauh di belakang. 

pikiranku berada di garis kelabu 

antara mempertahankan tuannya 

atau mempertuhankan dirinya sendiri.

Manifesto Manusia

                                                   1.

manusia tumbuh untuk tambah sia-sia. sebab

masa lalunya selalu dilintasi oleh masa depan.

sebab dewasa berarti anak-anak yang merengek

lebih sunyi. sebab impian tidak pernah mati

dari hidupnya.

                                                   2.

manusia tidak hidup untuk saling menghidupi.

sebab sindir-menyindir adalah buah dari

sandar-menyandar. sebab tangan yang

menelungkup tidak selalu menyerahkan tetapi

mengerahkan. sebab kebuntungan berarti

keuntungan.

                                                   3.

manusia selalu berbeda paham yang berujungkan

hampa. sebab yang dirujuk dengan kau bisa

menjadi dia dan dia adalah aku dan akulah kau

yang sebenarnya. sebab sayang selalu

kaumaknai menyesali bukan mengasihi.

Jangan Tidur

bangunkanku ketika burung-burung yang

sesarang saling curiga. ketika langit tidak kembali

menyemburkan biru atau hitam atau putih atau

warna apa pun yang bisa didefinisikan. ketika

segala sesuatu tidak ramah untuk punggung

manusia bahkan pohon dan dinding sekali pun.

ketika fiksiku sama dengan faktaku. 

‘bangunkanku ketika itu, ya?’ pintaku. 

mendengar teka-teki itu, kau mengawasi sekitar.

lalu dengan air yang menghiasi matamu

kau menatapku, ‘jangan kautidur kalau begitu.’  

jangan tidur? 

Angkat Kaki ke Sana

‘ke sana kuangkat kaki,’ katanya. ‘ke sana  

malam ini.’ ia tidak takut di jalan padat itu 

dingin bersembunyi dalam punggung aparat. 

‘dekat saja. di sana.’ lalu, jaket bepergiannya jatuh 

di hamparan tanah. sebelum diantarkan merpati 

bersama-sama. ke sana.

Lampu

‘malam belum berlalu,’ kata lampu. 

dikabarkannya kepada jendela yang terbuka  

juga lalu-lalang orang yang bersedia membeli

selada 

lengkung mentari sedikit timbul di timur sana. 

ada yang tidak ingin hilang kuasa.

Dinding Rumah

dinding rumah yang telah 

dinodai indah kata-kata  

sedang dicium api 

ketika ia berpikir  

akan abadi.

Angkuh

pada dua merpati betina yang sedang

menggagahi cakrawala.

pada seekor merpati betina yang

memutuskan untuk menghinggapi suatu dahan

di sebuah pohon besar. pada ia yang menata

ranting kecil, daun kering, jerami, dan apa pun

yang bisa digunakannya untuk membangun

sarang. pada ia yang menidurkan kedua

sayapnya demi mengerami telur-telur kreasinya. 

pada seekor merpati betina yang masih

mengarungi cakrawala. pada ia yang berputar-

putar di atas sebuah pohon besar. pada ia yang

menjelma awan agar kotoran dari bokongnya bisa

menghujani suatu dahan tempat seekor merpati

betina lain merawat telur-telur kesayangannya. 

pada ia yang merasa lebih luhur dari yang

lainnya.

untitled design (62)

Fariq Rizkia Kemal

Mahasiswa Sastra Indonesia, Unesa