5 Oktober 2026
SURABAYA — Pendampingan Creative Teacher Daluang, Adnan, membawa dua siswa RA Unggulan As-Sa’adah meraih Juara Harapan 3 dalam lomba pantomim tingkat Kota Surabaya. Lomba yang diikuti 30 peserta dari berbagai sekolah tersebut digelar di KB/RA Perwanida, Sabtu (3/10/2026).
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Daluang dengan RA Unggulan Assa’adah melalui program coaching untuk mempersiapkan siswa menghadapi kompetisi. Dua siswa yang menjadi perwakilan sekolah adalah Maryam Zakiyah Abdullah dan Shahraz Naziha Najda. Keduanya menjalani persiapan selama sekitar tiga minggu atau sepuluh kali pertemuan bersama Adnan.
Meskipun terbilang singkat, Adnan tidak langsung mengarahkan siswa pada cerita atau koreografi dalam proses coaching. Creative Teacher Daluang tersebut terlebih dahulu mengenalkan dasar-dasar pantomim, mulai dari ekspresi, gestur, gerak tubuh, keseimbangan, hingga cara menyampaikan pesan tanpa dialog.
“Proses awalnya saya tidak langsung masuk ke cerita atau koreografi. Saya kenalkan dulu dasar-dasar pantomim, seperti ekspresi, gestur, gerak tubuh, keseimbangan, dan bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa menggunakan dialog,” ujar Adnan.
Setelah siswa memahami dasar-dasar pantomim, coaching dilanjutkan dengan permainan tubuh dan ruang untuk membangun keberanian berekspresi. Adnan kemudian mengajak siswa masuk ke tahap penyusunan cerita, pembagian peran, adegan, hingga latihan alur secara bertahap.
Dalam menentukan konsep penampilan, Adnan mempertimbangkan kemampuan dan karakter siswa. Cerita yang dipilih dibuat sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka agar dapat disampaikan melalui ekspresi, gestur, serta interaksi antarpemain.
Menurut Adnan, pemilihan cerita dalam pantomim tidak hanya mempertimbangkan daya tarik cerita, tetapi juga kemampuannya untuk diterjemahkan melalui tubuh.
“Jadi, kami tidak hanya memikirkan ceritanya menarik atau tidak, tetapi juga apakah cerita tersebut bisa dimainkan dan dipahami melalui tubuh,” katanya.
Salah satu tantangan dalam proses coaching adalah membiasakan siswa berkomunikasi tanpa kata-kata. Anak-anak masih cenderung menjelaskan sesuatu melalui ucapan, sementara pantomim menuntut mereka menyampaikan maksud melalui gerakan, ekspresi wajah, arah pandangan, dan respons terhadap pemain lain.
Adnan juga menekankan pentingnya kekompakan dalam latihan. Setiap gerakan harus saling merespons dengan timing yang tepat agar cerita dapat tersampaikan kepada penonton.
“Latihan bukan hanya membuat siswa hafal gerakan, tetapi membuat mereka memahami apa yang sedang mereka lakukan,” ujar Adnan.
Kepala RA Unggulan As-Sa’adah, Hani Ulyati, mengatakan siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti coaching hingga pelaksanaan lomba. Ia menilai siswa dapat menangkap arahan Adnan dengan cepat.
“Antusiasme anak dalam latihan pantomim sampai saat hari H (lomba) ini sangat besar. Apa yang diinginkan Kak Adnan sebagai pelatihnya, mereka sangat cepat menangkapnya,” kata Hani.
Hani menjelaskan, persiapan diawali dengan mencari siswa yang memiliki bakat dan karakter sesuai dengan konsep penampilan. Selama proses coaching, kondisi suasana hati siswa sempat menjadi tantangan. Namun, dukungan dari sekolah membuat siswa kembali bersemangat mengikuti proses latihan.
Raihan Juara Harapan 3 menjadi hasil dari coaching yang tidak hanya mempersiapkan siswa untuk tampil di atas panggung, tetapi juga membangun keberanian mereka untuk bercerita melalui tubuh. Bagi Daluang, proses tersebut menunjukkan bahwa persiapan kompetisi dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam berekspresi.