Eksekusi

3 Oktober 2026

Dor!

Itu adalah tembakan kedua untuk hukuman matimu. Asap terlihat mengepul dari moncong senapan si penembak, pelurunya melesat dengan kecepatan yang tidak mungkin bisa kau tangkis. Kali ini peluru mengincar tengkorak kepalamu, tepat di dahi. Tak ada yang salah dengan apa yang dilakukan si penembak, ia hanya melaksanakan perintah atasannya. Kau tak bergerak sedikit juga. Seharusnya dengan tembakan sekeras itu kepalamu sudah pasti pecah, tapi yang terjadi, peluru itu hanya membuat lubang dan malah bersarang di dalamnya.

Seperti tembakan pertama, beberapa belas detik setelahnya dirimu masih bisa menyeringai, menunjukkan kedua taringmu. Karena, katamu, bagaimana pun ada yang tak mungkin bisa mereka mengerti di tanah delta ini. Warga seketika gempar. Orang-orang Belanda gusar. Sebelumnya, si penembak pertama mengenai dadamu. Darah dengan warna merah pekat segar merembes. Darah yang dalam jarak sepelemparan batu saja bisa tercium baunya. Tapi darahmu, darah segar, justru berbau seperti sari tebu.

“Ini bukan darah,” katamu, “ini sisa dari pabrik yang dibangun dengan kebiadaban.”

Tidak ada seorang pun yang paham bagaimana kau mampu menahan tubuhmu setelah dua tembakan. Seorang pendekar pun mestinya sudah rebah tanpa nyawa, apalagi setelah peluru kedua bersarang tepat di kepala. Tapi kau masih di sana, tubuhmu hanya menggigil halus, seperti daun tebu yang menahan angin, dan itu membuat semua orang semakin takut.

Asap dari senapan si penembak masih menggantung, bercampur dengan uap dari cerobong Suikerfabriek[1] Tulangan, menciptakan bau aneh yang menusuk hidung: anyir, logam, dan manis sari tebu. Orang-orang serentak mundur. Beberapa di antaranya ada yang menutup mulut karena menahan mual. Beberapa yang lain berlutut, lemas memeluk tubuhnya sendiri.

Salah seorang pribumi berbisik, “lelaki itu tak bisa mati.”

“Apakah semacam pertanda?”

“Pasti dia pakai jimat” sahut lainnya.

Dan kau mendengarnya. “Aku tidak akan mati,” katamu, dengan suara serak. “Kematian hanya milik mereka yang lupa dari mana mereka berasal.”

***

Lima jam sebelum dua peluru panas bersarang di dada dan dahimu, Meneer[1] Willem Klootwijk, seorang Hoofdopzichter[2], menanyai apa permintaan terakhirmu, sebelum kau tidak lagi melihat mentari pagi. Kau tenang menjawab, “aku ingin Puspa Wungu berada di sampingku, aku ingin ia menemaniku saat eksekusi nanti.” Dan tololnya Belanda itu menuruti permintaanmu.  

Belanda dengan perut tambun dan kumis tebal itu kemudian bertanya kembali, “apa kau menyesali perbuatanmu?” Bibirmu bergetar, ada yang tertahan di tenggorokanmu. Kau sejenak menarik napas panjang, mengeluarkannya perlahan-lahan. Kemudian menjawab, “aku menyesal.”

“Harusnya perempuan itu tidak langsung aku tusuk, tetapi terlebih dulu aku congkel kedua bola matanya, mengeluarkan isi perutnya hingga semua yang ada di dalamnya berhamburan, atau mungkin lebih baik aku kuliti terlebih dulu kemudian aku potong-potong tubuhnya seperti aku memotong ruas-ruas tebu, setelahnya akan kusesap setiap darah yang ada di tubuhnya seperti aku menyesap sari tebu. Dan jika ada yang bisa membuatnya hidup kembali tentu dengan senang hati aku akan melakukannya berkali-kali. Berkali-kali,” lanjutmu.

Meneer itu seketika mematung. Tak pernah ia dengar pernyataan sebengis itu keluar dari mulut seorang pribumi. Wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi merah, tapi di balik matanya yang kelabu, tergambar jejak kegelisahan. Ia menoleh ke seorang opsir yang berdiri di sudut, lalu mengangguk pelan, isyarat yang membuat dua bayangan lain bermunculan di balik dinding batu.

Ruang penjara itu lembap. Dingin. Bau besi tua dan jamur menyatu dengan aroma lembab dari tanah basah karena rembesan air dari atas. Di lorong-lorong sempit dan pengap itu, waktu seakan membeku. Hanya detak jantung dan tetes air dari pipa bocor yang menjadi penanda bahwa kau masih hidup. Lalu pintu jeruji besi dibuka. Suara engselnya berdecit seperti tikus terjepit. Dua penjaga menarikmu ke luar dari sel yang sempit dan membawamu melewati lorong dengan lentera yang digantung rendah. Dindingnya hitam, bekas bara dan jelaga. Ada semburat warna kecokelatan di dinding –darah, mungkin. Atau hanya lumut yang mengering. Tapi baunya jelas: seperti tubuh yang membusuk, seperti luka yang tak sempat ditutup.

Kau digelandang ke lapangan depan Loji Besar Suikerfabriek Tulangan. Di sana, di bawah terik, puluhan atau mungkin ratusan orang pribumi berkerumun. Mereka sengaja dikumpulkan untuk menunjukkan bagaimana akibatnya jika seorang pribumi mencoba melawan pemerintah Hindia Belanda.

Lehermu yang sedari tadi berkalung rantai besi, diseret seperti sapi. Sesekali salah seorang dari penjaga penjara itu melesatkan cambukan di punggungmu. Di tengah lapangan, tangan dan kakimu dipasung dengan balok kayu besar yang di salah satu ujungnya dipasang pasak besi.

***

Empat hari sebelum Meneer Willem Klootwijk menanyai permintaan terakhirmu, kau berdiri di ambang pintu kamar milik lelaki Belanda itu, dan untuk sesaat merasa seperti debu: tidak terlihat dan tidak berarti, menyelinap ke sela-sela kehidupan para pejabat Hindia Belanda. Kamar utama itu hanya diterangi lampu minyak dalam penutup kaca berbentuk kelopak bunga. Sumber cahaya kuning pucat itu membuat segala sesuatu di dalam ruangan menyerupai lukisan yang nyaris pudar.

Dalam remang itu pula kau hafal apa-apa yang ada di dalamnya: ranjang berkelambu renda, dinding bercat gading yang mulai mengelupas di beberapa sudutnya, dan lemari besar dari kayu jati. Lemari besar yang kerap kau jadikan tempat persembunyian jika si empunya kamar kembali dari tugas panjangnya. Kau bahkan hapal setiap tata letak barang-barang yang ada di meja sebelah ranjang, karena seorang perempuan Belanda, atau lebih tepatnya istri si kepala mandor kebun tebu, telah menaruh hati padamu.

Hari-hari lalu telah kau biarkan diri larut dalam tubuhnya, dalam aroma mawar basah yang tertinggal di leher, dalam bisikannya yang penuh rayuan. Ia suka melihat lekuk-liat tubuhmu, persis seperti kali pertama ia melihat lekuk-liat tubuhmu di kandang kuda belakang rumahnya. Katanya, tubuhmu lebih perkasa ketimbang kuda-kuda miliknya, lebih perkasa ketimbang tubuh suaminya.

Tapi malam kali ini kau datang dengan golok di pinggang dan dada yang berdebar pelan. Kau menuntut dendam, bagaimana pun, nyawa harus dibayar dengan nyawa. Perempuan itu duduk di tepi ranjang ketika kau membuka pintu dengan pelan. Rambutnya digelung kasar, dan gaun tidurnya jatuh longgar di bahu. Ia menoleh, seperti tahu dari langkahmu bahwa malam ini berbeda. Tidak ada senyum menyambut, hanya tatapan yang lama, dalam, seakan ia bisa membaca niatmu lewat sorot mata.

“Kau datang juga,” katanya, suaranya nyaris berbisik, “aku kira kau tidak akan kembali.”

Kau diam. Melangkah pelan menuju ranjang, sementara ia berdiri, berjalan mendekatimu. Ia menyentuh dadamu, seperti biasa, namun tangannya sedikit gemetar. Ia tahu, mungkin selalu tahu, bahwa akhir akan datang dari seseorang yang paling mengenal tubuhnya. Kalian bercinta malam itu, dalam diam dengan gerak tubuh dan napas yang pendek. Ia mendekapmu lebih erat dari biasanya, seolah tahu ini dekap yang terakhir, kau meraba pinggangmu. Golok bersarung kulit masih tergantung di sana. Kau mencium bahunya, lalu berbisik di telinganya, “maafkan aku.”

Ia tidak sempat membalasnya. Dalam satu gerakan yang cepat dan sunyi, kau menikam sisi tubuhnya. Ia meringis, mengerang kecil, tapi matanya tidak menampakkan terkejut. Hanya sedih. Seperti seseorang yang akhirnya tahu nasibnya memang tak akan pernah selamat. Perempuan itu menggeliat kesakitan, darah mengalir pelan membasahi ujung tirai. Tangannya mencari sesuatu yang tidak bisa dijangkau, mungkin harapan. Tapi tidak ada yang tersisa malam itu.

***

Tiga minggu sebelum kau membunuh istri Meneer Willem Klootwijk di kamar tidurnya, serdadu Belanda telah lebih dulu membunuh Ibumu. Kau terlambat menyelamatkannya. Kala itu kau baru saja pulang dari perjalanan menghabisi puluhan lelaki berkulit pucat di tangsi bagian barat. Darah yang ada di golok yang kau gunakan untuk menggorok mereka bahkan belum kering sempurna.

Kata salah seorang buruh, Ibumu dibunuh karena ia tak mau menyerahkan lahan miliknya. Lahan kebun tebu yang sejak lama diincar penguasa Suikerfabriek Tulangan. Bagi mereka pribumi tak sepatutnya punya simpanan harta. Dan sebab itulah kau punya alasan yang semakin kuat untuk tidak menyukai kehadiran mereka di tanah delta, pertama karena mereka penjajah, kedua karena mereka membunuh Ibumu. Dan mereka yang tadi datang, sekali lagi kata buruh itu, adalah orang-orang utusan Meneer Willem Klootwijk.

Kata buruh lainnya, Ibumu dibunuh karena ia tidak mau buka mulut kenapa anaknya selalu lolos dari sangkur para Belanda. Perempuan tua itu memilih bungkam ketimbang nyawa anaknya terancam. Maka begitulah yang terjadi, Ibumu mati tersungkur dihujani tembakan. Di pematang kebun tebu itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Tubuhnya hampir tidak bisa dikenali karena berantakan.

“Londo-londo itu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa,” katamu. “Mereka musti tahu, aku seorang pendendam yang baik.”

Sesaat setelah kau kuburkan jenazah Ibumu di bawah pohon nangka sebelah kebun tebu miliknya, angin dari arah utara menerpa wajahmu pelan, tapi kemarahan menerpa dadamu dengan cepat. Matamu merah, sangat merah. Kau berdiri seraya menepuk celana hitammu, lalu berkacak pinggang, meludah tiga kali ke sebelah kiri, sebelum akhirnya melesat seperti alap-alap.

Tidak ada satu jam, belasan serdadu Belanda yang berjalan membelah batang-batang kebun tebu tewas dengan kepala lepas dari lehernya. Darah menyembur membasahi tanah. Leher mereka serupa kain robek. Beberapa di antaranya berusaha menembak, dan belum sempat mereka mengisi senjata, lebih dulu kau tanamkan ujung golokmu ke mulutnya, membelah dari rahang sampai ke tengkuk. Mereka yang tercengang melihat kebuasanmu kau habisi dengan sebatang tebu menancap dari lubang pantat hingga ke kerongkongannya.

Dan di tengah pembantaian membabi buta itu kau, dengan sengaja, biarkan seorang lelaki berkulit pucat lari dengan batok kepala yang cuil. Kau biarkan lelaki jangkung itu lari membawa debar ketidakpercayaan. Kau biarkan serdadu muda itu lari agar ia siar-kabarkan bahwa ada salah seorang pendekar dari tanah delta yang siap menghadapi puluhan, atau bahkan ratusan, tajamnya sangkur dan moncong senapan seorang diri.

“Beri tahu teman-teman londomu, aku adalah maut!” serumu. “Yang hanya bisa mati jika aku sendiri yang menghendaki.”

***

Dua bulan sebelum kau temukan Ibumu tidak lagi bernyawa di pematang kebun tebu, kau membagi nyawamu denganku, dengan sebilah golok bernama Puspa Wungu. Golok yang selalu kau basuh-sapukan dengan darah orang-orang Belanda yang kau bunuh. Dengan begitu, katamu, mata golok di tubuhku akan semakin landhep, tajam. Kau percaya, serupa hewan liar, darah para penjajah itu akan membuat para penjajah lain takut mendekat, mereka akan gemetar setelah mencium aroma kawanannya yang telah dibunuh.

            Berbekal babad dan kitab-kitab dari tahun-tahun lampau, kau akhirnya berhasil menguasai kemampuan ilmu hitam itu. Kau membagi nyawamu denganku karena tahu orang-orang Belanda membawa senapan yang berbahaya, dan kau tak mungkin bisa menghadapi mereka hanya berbekal tendangan dan pukulan saja. Kini kau tidak mungkin bisa mati, meski tubuhmu bercerai-berai, kecuali tubuhmu dicederai dengan pusaka yang kau titipkan setengah dari nyawamu.

            Setiap kali kau ayunkan mata golok tubuhku untuk menghabisi lawan-lawanmu, dadamu akan bergetar. Karena bagaimana pun kini kau bukan hanya seorang pendekar, tapi juga seorang pemburu yang menyaru dalam gelap. Seorang pemburu kepala serdadu Belanda.

Hanya dua orang yang tahu rahasia ini: Ibumu dan seorang perempuan Belanda. Seorang perempuan Belanda totok yang tinggal di Loji Besar Suikerfabriek Tulangan. “Keduanya tidak mungkin membocorkan rahasia ini karena keduanya mencintaiku,” katamu satu waktu. Dan hanya dari dua orang itu pula kau bisa dapatkan rasa percaya diri sebagai seorang lelaki.

Kepada perempuan itu kau pernah meminta untuk diajari bagaimana cara membaca peta Sidoarjo yang digambar orang-orang Hindia Belanda. Sebagai imbalannya kau bersedia mengisi ceruk si perempuan, di kelam malam, dengan nikmat yang tidak pernah, tidak akan pernah, ia temukan di suaminya. Dan ia sepakat.

“Akan aku tunjukkan di mana letak sarang para serdadu Belanda.”

“Akan aku tunjukkan bagaimana cinta seharusnya bekerja,” balasmu.

Sedang kepada Ibumu kau pernah meminta restu untuk melakukan perjalanan panjang ke barat. Perjalanan panjang yang mengarahkanmu pada bebatuan dan tanah endapan.

“Restuku akan selalu bersamamu, anakku,” kata Ibumu. “Sebagaimana Tuhan, atau yang kau anggap Tuhan, menggenapi degup jantungmu.”

“Ibu tahu apa yang akan aku lakukan.”

            “Tapi, sekeras apa pun kau mencoba, kau tidak akan menang melawan londo-londo itu.”

            “Aku tidak akan menang melawan londo-londo itu tanpa bantuan golok Puspa Wungu.”

***

Seorang opsir Belanda berteriak, memerintahkan agar disiapkan tembakan ketiga, “Schiet nog een keer! Recht op het hart![1]” Tapi salah seorang lelaki berkulit pucat yang sejak mula berada di sebelah kiri panggung eksekusi seperti paham, bahwa si penembak –setelah sekali lagi memastikan bahwa kau masih hidup, tangannya bergetar dan agaknya tidak bisa menarik pelatuk dengan tegas. Maka sebelum tembakan itu dilepas-lesatkan, yang kemungkinan bisa saja meleset, ia memilih berteriak: “Stop!”. Suara garaunya seolah memunculkan gema yang melingkar. Kerumunan yang semula riuh-rendah dengan gumam seketika disergap hening. Ia melangkahkan kaki menyibak barisan. 

“Mungkin kita perlu mencoba hal-hal yang tidak kita percaya sebelumnya,” katanya.

Akhirnya kita sama-sama tahu, setelah ia mendekat, lelaki itu adalah lelaki berkulit pucat yang sama ketika kau temukan Ibumu sudah tidak lagi mengembuskan napasnya. Lelaki itu berdiri dan dengan gerak cepat tangannya menjambak rambutmu. Beberapa detik kemudian, ia perlahan menarikku, yang sedari tadi tergeletak di sampingmu. Jaraknya hanya sehasta dengan tempatmu berlutut. Setelah ia timang gagang di tubuhku, dengan kecepatan yang tak disangka, ia ayunkan mata golok tubuhku tepat di bagian belakang lehermu, menebas kepalamu tanpa aba-aba. []

[1] Suikerfabriek, pabrik gula

[2] Meneer, tuan

[3] Hoofdopzichter, kepala mandor kebun tebu

[4] Schiet nog een keer! Recht op het hart, Tembak lagi! Langsung tepat ke jantungnya!