NEGARA
hanya satu nomor yang kusimpan
kepada ialah kusampaikan kebingungan:
ibu saya hilang. sejak tadi siang
ia musnah bersama tungku yang usang
ia musnah bersama sedap bau masakan
bisakah di dapur ibu kau rasakan
sebutir kesejahteraan?
“…”
hanya satu nomor yang kusimpan
kepada ialah kumemohon pertolongan:
ayah saya mati. sebab di waktu petang
ia pulang tak membawa uang
ia pulang disepak kaki atasan
bisakah di saku ayah kau temukan
selembar keadilan?
“…”
hanya satu nomor yang kusimpan
hingga kini tak kutahu milik siapa
sekolah memberikan makanan
bukan pelajaran membaca
jadi tak kupahami
kontak yang sering kuhubungi
bernama: negara.
— Surabaya, 20 Februari 2025
KITA SAMPAI DI RUMAH KERTAS
kita sampai di rumah kertas
tiba ibu dari swalayan
sekilo pusing jatuh di teras
serenceng marah di meja makan.
kita sampai di rumah kertas
lama bapak tinggal di dapur
masak dengan hati yang panas:
pusing dan marah yang menganggur.
kita sampai di rumah kertas
pergi aku ke daun pintu
oleh negara disambut antusias
menyerah korek ia bertamu.
— Bekasi, 16 Maret 2025
RAMBU-RAMBU BURAM-BURAM
setiap waktu kumemburu rambu-rambu dalam hidupku. buram-buram tak seperti
lampu lalu lintas di jalan itu.
sekali saja anganku menginginkan sesuatu yang merah. sekali saja marah kepadaku
setelah menjelma bahtera yang mematuhi arah ombak hanya untuk mematahi
semua muara.
sekali saja mimpiku terjaga oleh sesuatu yang kuning. sekali saja kenang masa lalu
agar bisa menjelma isyarat yang tidak kunang-kunang di masa depan walau
terlampau jauh untuk tangan pendekku.
sekali saja harapku menghirup sesuatu yang hijau. sekali saja hirau terhadap daun
yang menangkap bujukan menari dari angin sebagai suruhan untuk jatuh dan
mengungkap bahwa tanah adalah pemberhentian terakhir yang mampu
memangkunya.
sekali saja.
— Surabaya, 25 Mei 2025