Penulis: Muhammad Azhar Adi Mas’ud

Ada satu ironi yang selalu hadir dalam pembicaraan tentang pertambangan. Kita terbiasa menghitungnya dalam satuan produksi, investasi, atau kontribusi terhadap pembangunan, tetapi jarang bertanya bagaimana tubuh manusia menanggung seluruh proses itu. Statistik mampu menjelaskan berapa ton batu yang berhasil diangkat dari perut bumi, namun tidak pernah benar-benar menjelaskan berapa banyak tenaga, ketakutan, bahkan harapan yang ikut terkubur bersamanya.

Barangkali di situlah “Tumbang Tambang” menemukan alasan keberadaannya. Pertunjukan karya Teater Bengkel Seni Ujung Sidoarjo ini dipentaskan pada 25 Juli 2026 di Gedung Pertunjukan Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, menjadi bagian dari Manajemen Talenta Teater 2026 #3.

Pertunjukan ini tidak berusaha menjadi dokumentasi tentang industri tambang, apalagi menawarkan jawaban atas persoalan yang sudah berlangsung lama. Ia justru menggeser perhatian penonton dari angka menuju tubuh; dari laporan menuju pengalaman. Ketika kata-kata tidak lagi cukup menjelaskan penderitaan, tubuh menjadi bahasa terakhir yang masih bisa dipercaya. Sebagaimana disampaikan dalam pengantar pertunjukan, olah rasa dan olah tubuh dipilih sebagai cara “mengadu” sekaligus “berdoa” bagi mereka yang suaranya tak lagi dianggap penting.

Pilihan ini menarik karena tubuh dalam pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, melainkan juga sebagai arsip. Setiap gerakan mengangkat karung, menyeret beban, memanjat besi, atau kembali berdiri setelah terjatuh menghadirkan ingatan tentang kerja yang terus berulang tanpa pernah benar-benar selesai. Penonton tidak sedang menyaksikan koreografi yang indah, tetapi ritme kerja yang melelahkan. Repetisi gerak menjadi metafora bahwa eksploitasi bukanlah sebuah peristiwa, melainkan kondisi yang terus berlangsung setiap hari.

Yang membuat Tumbang Tambang terasa kuat adalah keberaniannya mempertemukan dua dunia yang sering dipisahkan: ritual dan industri. Pertunjukan dibuka dengan sesajen, dupa, penari, dan simbol-simbol yang mengingatkan bahwa alam pernah diperlakukan sebagai ruang yang sakral. Namun, babak itu perlahan bergeser menuju dunia kerja yang dipenuhi peluit, semen, karung, dan material tambang. Pergeseran tersebut seolah menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan alam mengalami perubahan mendasar. Alam tidak lagi diposisikan sebagai ruang yang dihormati, melainkan sumber daya yang harus terus menghasilkan.

Di tengah dunia yang serba mekanis itu, muncul adegan-adegan simbolik yang justru paling mengganggu. Seorang pekerja memakan batu sambil merangkak. Dua pekerja berebut wadah berisi tali. Pertanyaan “masihkah kau percaya dan bertahan?” menggema sebagai kritik yang jauh melampaui konteks tambang. Pertanyaan itu tidak hanya diarahkan kepada pekerja, tetapi juga kepada masyarakat yang perlahan terbiasa menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar. Simbol-simbol tersebut memang tidak selalu menawarkan makna tunggal, tetapi justru karena itulah ia bekerja lebih lama di benak penonton.

Menariknya, pertunjukan ini juga menyisipkan humor melalui kemunculan tiga pendaki gunung yang tersesat. Sekilas adegan tersebut tampak menjadi jeda dari intensitas pertunjukan. Namun, jika dibaca lebih jauh, ia justru memperlihatkan kontras yang tajam. Ketika pekerja tambang hadir melalui tubuh yang dipaksa bekerja tanpa henti, para pendaki datang membawa logika hiburan, dokumentasi, dan konten. Mereka merekam, bercanda, bahkan menjadikan kesurupan sebagai tontonan. Kontras ini memperlihatkan bagaimana satu ruang yang sama dapat dimaknai secara sangat berbeda: bagi sebagian orang, gunung adalah tempat bekerja; bagi yang lain, sekadar destinasi untuk dikunjungi dan diabadikan.

Monolog penutup tentang alam kemudian mengikat seluruh fragmen tersebut menjadi satu kesatuan. Ketika tokoh menjatuhkan dirinya ke dalam tong besar, pertunjukan tidak sedang menghadirkan akhir cerita, melainkan memperlihatkan sebuah siklus. Tambang bukan hanya mengubah bentang alam, tetapi juga membentuk relasi manusia dengan pekerjaannya, tubuhnya, bahkan dengan harapan hidupnya sendiri. Tidak ada kemenangan yang dirayakan, tidak ada penyelesaian yang ditawarkan. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa eksploitasi tidak selalu meninggalkan reruntuhan yang terlihat; sering kali ia meninggalkan tubuh-tubuh yang terus bekerja hingga akhirnya menjadi bagian dari lanskap yang mereka gali sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *