Penulis: Martabati Zulfa
SURABAYA, Komunitas Sruntulisme kembali menyapa dengan menghadirkan gelaran diskusi terbuka bertajuk Sahibul Hikayat yang berlangsung pada Jumat malam (14/8/2026) di kedai kopi Alengka, Jambangan, Surabaya ini mengupas tuntas buku kumpulan puisi terbaru karya Ririe Rengganis yang berjudul Catatan Kaki Pembangunan.
Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Pelangi Sastra tersebut menyoroti beberapa isu tentang kerentanan, perempuan, dan lingkungan, serta diskusi terbuka yang menjadi ruang perjumpaan berbagai perspektif sastra dan sosial, seperti ekokritik, posthumanisme, hingga ekofeminisme. Dalam diskusi ini, Ririe Rengganis yang juga merupakan dosen Sastra Indonesia hadir langsung sebagai penulis, didampingi oleh Aniqo Dhamar ‘Asyuro sebagai pengulas, serta dipandu oleh Rizki Amir.
Diskusi dibuka dengan pemicu menarik mengenai relasi manusia dan alam. Kerap kali manusia memandang hutan dan alam sebagai entitas yang diam sehingga dianggap wajar untuk dimanfaatkan secara masif tanpa henti. Puisi-puisi dalam Catatan Kaki Pembangunan memperlihatkan bagaimana masyarakat dan warga lokal kehilangan kuasa atas tempat tinggal mereka akibat pembangunan-pembangunan yang diinisiasi oleh negara. Di sisi lain, penulis menggunakan kacamata ekofeminisme dalam kumpulan puisinya, seperti penggunaan diksi ibu yang dieksplorasi secara mendalam untuk memperlihatkan kesejajaran antara eksploitasi terhadap alam dan marginalisasi terhadap perempuan. Puisi-puisi ini juga melayangkan penolakan terhadap logika pembangunan yang kerap mengorbankan masyarakat dan alam demi kepentingan proyek skala besar.
Ririe Rengganis selaku penulis menegaskan bahwa buku ini lahir dari puncak muak dirinya yang mendengar janji-janji pembangunan, tetapi yang terjadi justru perusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia. “Ya, tetapi apakah kata pembangunan itu membawa dampak positif bagi rakyat yang konon katanya memerlukan pembangunan, tetapi ternyata tidak. Jadi, ketika banjir di Aceh itu menjadi puncak muak saya, ya ini akhirnya keluar. Jadi (kalau) ngomong soal pembangunan, pembangunan yang seperti apa? Pembakaran hutan, penebangan hutan, yang semuanya atas nama pembangunan. Sementara yang dikorbankan juga mereka yang tinggal di dalam wilayah-wilayah yang mestinya itu adalah bagian dari siklus hidup mereka,” tegasnya saat forum diskusi.
Senada dengan hal tersebut, Aniqo turut menyoroti dampak nyata proyek pembangunan masif yang kerap meninggalkan luka ekologis, seperti lubang-lubang bekas tambang yang terabaikan dan menelan korban jiwa. “Dan saya juga melihat dan sering kali mendengar berita tentang anak kecil yang meninggal gara-gara masuk lubang tersebut, begitu sih menurut saya. Jadi, kayak misalkan memang harus banget benar-benar dilakukan itu pembangunan, tolong selesaikan sisa-sisanya itu biar tidak dari awal mengorbankan orang, sisanya juga malah mengorbankan orang lagi,” ujarnya.
Selain itu, menanggapi isu ekofeminisme yang menjadi salah satu topik hangat dalam diskusi terbuka ini, para peserta yang hadir memberikan pertanyaan mengenai referensi dan makna ekofeminisme, Ririe Rengganis menyoroti karya-karya sastra seperti novel Lemah Tanjung karya Ratna Indraswari yang memperjuangkan keberadaan hutan kota dari gempuran kapitalisme. Kemudian, di ranah teori merujuk pada pemikiran Vandana Shiva—ilmuan perempuan asal India yang memperjuangkan isu lingkungan dan kemiskinan di negara dunia ketiga. Ririe Rengganis menegaska bahwa dalam sistem produksi dan eksploitasi alam, kaum perempuan sering kali menanggung beban ganda karena ketika alam dirusak akibat eksploitasi, perempuan adalah pihak yang paling rentan kehilangan sumber penghidupan. Lewat karyanya, Ririe Rengganis berharap publik kembali mempertanyakan arah kebijakan pembangunan nasional serta menyadarkan pentingnya menempatkan ekologi sebagai subjek utama dalam kehidupan berbangsa.
Pada acara bertajuk Sahibul Hikayat, Sruntulisme tidak hanya menyajikan diskusi terbuka, tetapi juga menghadirkan beragam pertunjukan seni dan aksi literasi jalanan, di antaranya Stand Up Poetry bersama komunitas Cakrawala Kata, puisi on the spot yang dibawakan oleh Adnan Guntur dari Sastra Lumpur, dan juga bazar buku bekas dan murah. Forum ini menegaskan pentingnya menjaga kesadaran kritis dan terus menyuarakan kemanusiaan serta kelestarian lingkungan melalui karya sastra.

