Event

untitled design (60)

Pameran Arsip Sastra dan Seni “Nasi dan Melati”: Upaya Menghidupkan Kembali Jejak Lekra dan Sastra Rakyat 1950-an

SURABAYA, Sebuah pameran arsip dan diskusi sastra “Nasi dan Melati serta Merdeka dan Tanah: Membaca Ulang Sastra Rakyat 50-an” resmi digelar di Rumah Studi Gangguan, Surabaya pada 23–30 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan kembali karya sastra dan arsip yang berkaitan dengan aktivitas kebudayaan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Surabaya pada dekade 1950-an. Pameran yang digagas oleh kolektif Studi Gangguan dan OHS ini menghadirkan jejak sejarah kebudayaan lewat arsip-arsip karya seni, surat kabar tua, hingga penerbitan sastra era 1950-an. Selain arsip mengenai seni grafis, pameran juga menampilkan surat kabar, majalah, karya sastra, serta dokumentasi sejumlah tokoh yang berkaitan dengan Lekra. Kurator pameran, Alfian Widi menjelaskan bahwa ide pameran ini berawal dari rencana penerbitan ulang kumpulan karya sastra Nasi dan Melati yang terbit pada tahun 1956. Momentum pameran ini sekaligus bertepatan dengan 70 tahun peringatan penerbitan karya tersebut. “Awalnya kami cuma mau bikin dan terbitin buku saja. Tapi setelah melihat dukungan dari berbagai pihak, kami rasa perlu memamerkan arsip-arsipnya agar publik bisa melihat langsung,” ujar Alfian di sela-sela pameran. Melalui pameran ini, Alfian ingin mengajak publik melihat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dari sudut pandang ruang produksi pengetahuan dan kebudayaan. Lekra didirikan pada 17 Agustus 1950 sebagai respons terhadap dinamika zaman pascakemerdekaan dan gerakan seni saat itu. Selain menampilkan arsip, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah program pendukung. Pengunjung dapat mengikuti diskusi, melihat penerbitan buku, serta menikmati jamuan makanan dan minuman yang mengambil inspirasi dari resep dalam buku yang berkaitan dengan materi pameran. Menurut Sarah Inas, perwakilan OHS, pameran ini tidak dimaksudkan sebagai kegiatan yang berhenti pada penampilan arsip semata. Pameran menjadi bagian dari rangkaian kerja kebudayaan yang dapat berlanjut melalui program Mantra Urban. “Enggak bisa dilihat cuma arsip doang, tapi kan arsip itu enggak berhenti. Redefinisi lagi lewat kegiatan-kegiatan begini, bertukar pendapat, terus memunculkan imajinasi ke depannya seperti apa,” kata Sarah. Melalui “Nasi dan Melati”, penelusuran terhadap sastra rakyat 1950-an sekaligus menjadi pintu untuk melihat dan membaca kembali bagaimana karya, ingatan, dan arsip kebudayaan masih tersimpan di luar institusi kearsipan formal dan membutuhkan upaya penelusuran serta dokumentasi secara berkelanjutan.

Pameran Arsip Sastra dan Seni “Nasi dan Melati”: Upaya Menghidupkan Kembali Jejak Lekra dan Sastra Rakyat 1950-an Read More »

untitled design (61)

Menangkap Cahaya di Atas Kanvas: Pameran Tunggal Lukisan SBY di Surabaya

SURABAYA, Pameran tunggal lukisan karya Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang digelar di VOZA Tower, Surabaya, sukses menarik perhatian masyarakat dan penikmat seni. Pameran yang berlangsung pada 16–29 September 2026 ini menghadirkan sekitar 95–100 karya SBY dan terbuka untuk masyarakat secara gratis. Pameran tersebut mengangkat tema “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono.” Dalam karya-karya SBY cahaya tidak hanya dipandang sebagai unsur visual, tetapi juga dimaknai sebagai metafora harapan. Berbagai lukisan yang ditampilkan merekam pengalaman, perjalanan, kenangan, serta pandangan SBY terhadap kehidupan. Karya-karyanya juga memperlihatkan ketertarikannya terhadap lanskap, seperti laut, awan, dan pemandangan alam. Secara tematik, karya-karya SBY dalam monografi pameran dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni Lanskap Memori, Lanskap Sosial-Politik, dan Lanskap Tatapan Langsung (On The Spot). Ketiga kategori tersebut menggambarkan pengalaman personal, respons terhadap persoalan sosial-politik, serta hasil pengamatan langsung SBY terhadap berbagai lanskap. Salah satu pengunjung asal Surabaya, Airin, yang datang bersama ibunya mengaku terkesan dengan pameran tersebut usai melihat langsung ragam karya lukis yang dipajang. Sebagai pencinta seni yang juga menggemari aktivitas melukis sejak kecil, Airin menuturkan bahwa karya berlatar pemandangan alam khususnya pantai menjadi favoritnya. Salah satu lukisan yang paling mencuri perhatiannya adalah pemandangan Pantai Klayar. “Lukisannya bagus sekali, warna-warnanya terasa hidup. Apalagi saya pribadi pernah berkunjung ke Pantai Klayar, jadi terasa makin berkesan,” ungkapnya. Selain tema pantai, lukisan berjudul More in the Dark Night juga memberikan kesan tersendiri baginya. Menurut Airin, nuansa malam dan warna gelap pada lukisan tersebut justru memberikan suasana yang tenang dan menyejukkan bagi yang melihatnya. Pengunjung lainnya, Bogi Ilham Ramadan yang berprofesi sebagai arsitek sekaligus memiliki latar belakang pendidikan ilmu politik, membagikan pandangannya mengenai karya-karya SBY. Menurutnya, lukisan SBY menyajikan fenomena visual yang unik jika dibandingkan dengan seniman Indonesia ternama lainnya. “Kalau pelukis lain seperti Hendra Gunawan, kita bisa langsung tahu ‘Oh ini lukisannya Hendra Gunawan.’ Tapi kalau Pak SBY, kita tidak bisa langsung menebaknya. Beliau bukan sosok yang egosentris,” ujar Bogi saat ditemui di pameran. Bogi menilai ketidakberadaan identitas visual yang terkesan mengikat dalam lukisan SBY mencerminkan karakter aslinya selama menjabat di pemerintahan. Berbeda dengan seniman atau arsitek individualis yang cenderung memaksakan selera pribadi pada karyanya, SBY justru tampil lebih menampung beragam pandangan. Dengan menghadirkan karya-karya yang berangkat dari pengalaman personal hingga persoalan politik dan sosial, pameran ini memperlihatkan perjalanan SBY dalam mengekspresikan gagasan melalui seni lukis sekaligus membuka ruang bagi masyarakat Surabaya untuk mengenal sisi artistiknya.

Menangkap Cahaya di Atas Kanvas: Pameran Tunggal Lukisan SBY di Surabaya Read More »

untitled design (59)

Merekam Ingatan 4 Dekade: Dedikasi Dr. Melani Setiawan Menjaga Nyawa Seni Rupa Indonesia

SURABAYA — Di tengah hiruk-pikuk Selasar Balai Budaya Lantai 2 Balai Pemuda, Surabaya, puluhan pasang mata terhipnotis oleh cerita perjalanan panjang seni rupa tanah air pada Minggu (20/9/2026). Siang itu, ruang diskusi hangat berdurasi dua jam dipenuhi mahasiswa, praktisi, hingga pecinta seni yang hadir untuk menyimak proses di balik terbitnya buku Indonesian Art World: Dr. Melani W. Setiawan’s Archive (1977–2022). Buku berbobot 2 kilogram yang terbagi dalam tiga volume ini bukan sekadar tumpukan kertas. Di dalamnya tersimpan lebih dari 4.000 rekam visual yang dirawat secara telaten oleh Dr. Melani Setiawan selama 45 tahun, sebuah karya megah yang sejatinya dijadwalkan menyapa publik pada gelaran ART SUBS tahun lalu. Penyelamat di Tengah Dahaga Pengarsipan Lahirnya buku ini menjadi oase segar bagi dunia seni rupa nasional yang selama ini kerap meraba sejarahnya sendiri akibat minimnya pencatatan. Gallerist sekaligus art dealer, Eddy Prakoso, yang turut mengawal penerbitan buku ini bersama Sri Sasanti Galeri, mengungkapkan betapa vitalnya peran arsip mandiri ini. Bagi Eddy, ketekunan Dr. Melani memotret ekosistem seni rupa selama empat setengah dekade secara mandiri adalah aksi yang sangat langka. Foto-foto di dalamnya tidak hanya merekam karya, tetapi lengkap dengan catatan rinci mengenai peristiwa, nama tokoh, hingga tanggal kejadian. “Buku ini meliputi periode yang sangat panjang dalam ekosistem seni rupa Indonesia selama 45 tahun, dilakukan seorang diri tanpa imbalan, dan kontennya sangat fokus,” ujar Eddy di sela acara. Dedikasi 10 Tahun dan Sentuhan ‘Ibu Para Seniman’ Meskipun tidak berlatar belakang kurator atau pengkritik seni, kecintaan mendalam Dr. Melani terhadap seni rupalah yang menggerakkannya. Akademisi dan kritikus seni rupa, Asmudjo J. Irianto, menggambarkan Dr. Melani sebagai sosok pengembara yang menyerap sekaligus mengembalikan energi kreatif ke dalam medan seni Indonesia. “Arsip Bu Melani ini menjadi sumber mentah yang sangat potensial untuk dikelola dalam membangun medan seni Indonesia, khususnya dari sisi infrastruktur manusianya. Beliau layak disebut sebagai ‘Ibu para Seniman Kontemporer Indonesia’,” ungkap Asmudjo. Di balik kemegahan buku ini, ada kerja keras tak kasatmata yang memakan waktu kurasi hingga 10 tahun. Dr. Melani harus memilah lebih dari 100.000 foto pribadi dan hanya mengambil sekitar 4 persen materi terbaik untuk dibukukan. “Susah ya memilih foto karena seleksi ketat dan penataan foto harus cocok, jadinya susah,” kenang Dr. Melani sambil tersenyum. Lewat proses kurasi yang runut dimulai dari mendata perupa yang belum terarsip hingga menyusun indeks nama buku ini kini berdiri sebagai monumen pengingat bahwa sejarah seni rupa Indonesia dibentuk oleh jalinan hubungan humanis yang tak boleh dilupakan.

Merekam Ingatan 4 Dekade: Dedikasi Dr. Melani Setiawan Menjaga Nyawa Seni Rupa Indonesia Read More »

whatsapp image 2026 09 04 at 22.30.08

Lebih dari Sekadar Romantisme, “Awal dan Mira” Sentil Isu Reklamasi Surabaya dan Diskriminasi Rakyat Pesisir

Penulis: Martabati Zulfa SURABAYA, Gedung Cak Durasim, menjadi saksi suksesnya pementasan teater bertajuk “Awal dan Mira” yang dibawakan oleh kelompok Teater Sendratasik Surabaya pada Sabtu (22/8/2026) malam. Pertunjukan ini berhasil menyedot perhatian penonton melalui sajian seni pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengadaptasi sejumlah persoalan sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya isu reklamasi dan diskriminasi terhadap masyarakat pesisir. Naskah asli Awal dan Mira merupakan karya legendaris dari sastrawan Utuy T. Sontani yang ditulis pada tahun 1950-an. Pada versi originalnya cerita tersebut mengusung tema kesenjangan sosial dan kapitalisme namun, Yoga Yan Wardana sang sutradara bersama tim Teater Sendratasik, mengolah naskah tersebut dengan proses adaptasi dan kontekstualisasi agar selaras dengan dinamika sosial modern kota Surabaya. Yoga Yan Wardana, selaku sutradara menjelaskan bahwa perubahan isu ini disengaja agar pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan relevan dengan penonton setempat. Mengingat domisili kelompok teater berada di Surabaya, isu reklamasi pesisir dan dampak penggusuran menjadi pilihan utama untuk diangkat ke atas panggung. “Tapi memang dari Manajemen Talenta ini menghendaki untuk isunya itu yang kekinian dan kebetulan kelompok Teater Sendratasik ini berada di wilayah Surabaya, yang paling dekat isunya dan sesuai mungkin isu reklamasi,” ungkapnya pada sesi wawancara. Penggambaran nyata dari dampak reklamasi dan perusakan alam dapat dilihat jelas pada karakter Mira. Mira dimaknai sebagai karakter yang menjadi simbol  dari alam yang terdampak oleh tindakan manusia. Dalam pertunjukan tersebut, Mira digambarkan mengalami cacat pada bagian kaki setelah terlibat dalam aksi demonstrasi karena berjuang mempertahankan lingkungannya dan menolak reklamasi. Nabila Giri Ramadhani memberikan pendapatnya terkait karakter Mira yang diperankannya. Nabila menjelaskan bahwa karakter Mira tidak hanya berfungsi sebagai tokoh utama dalam kisah romantis, tetapi juga merepresentasikan kondisi alam yang mengalami kerusakan akibat pembangunan dan kepentingan manusia. ”Jadi di teater Awal dan Mira ini kita itu mengangkat isu reklamasi. Di mana Mira itu sepertinya sebagai simbol dari alam, yaitu keutuhan alam itu sendiri. Namun, Alam dihancurkan karena perbuatan manusia itu sendiri dengan pembangunan dan sebagainya,” jelasnya. Selain konflik romantisme dan isu lingkungan, pertunjukan ini juga dibumbui oleh unsur komedi satir. Yoga menegaskan bahwa unsur komedi digunakan sebagai bentuk satire agar kritik sosial dapat diterima penonton dengan cara yang lebih ringan.”Satir-satir tentang bagaimana semua cowok itu sama aja, tidak melihat jabatan dan segala macam, tetap suka menggoda cewek, catcalling, dan sebagainya. Kemudian naskah kami sesuaikan lagi menjadi bahasa-bahasa kekinian. Dan komedi yang menyindir ke khalayak umum. Jadi bagaimana mereka bisa menerima, mereka bisa sadar, khususnya tentang isu reklamasi ini,” ungkap Yoga.. Proses mentransformasikan naskah teks menjadi seni pertunjukan panggung penuh aksi diakui menyimpan tantangan tersendiri. Tim Teater Sendratasik melakukan serangkaian tahapan intensif, mulai dari bedah naskah, pendalaman karakter, observasi lapangan, hingga eksplorasi keaktoran dan musik pengiring. Melalui Awal dan Mira, Teater Sendratasik tidak hanya menghadirkan kisah hubungan antara dua tokoh, tetapi juga mencoba mempertemukan karya sastra dengan persoalan sosial yang sedang berlangsung. Melalui adaptasi tersebut menjadi cara untuk menjadikan panggung teater sebagai ruang refleksi terhadap isu reklamasi, kesenjangan, diskriminasi, dan perilaku sosial di tengah masyarakat.

Lebih dari Sekadar Romantisme, “Awal dan Mira” Sentil Isu Reklamasi Surabaya dan Diskriminasi Rakyat Pesisir Read More »

whatsapp image 2026 09 22 at 12.08.46 (1)

Lewat “Sidang Para Setan” Teater Q Suguhkan Komedi Satire Sebagai Cermin Realitas Negeri

SURABAYA, Teater Q Surabaya sukses menggelar panggung pertunjukan lewat pentas tunggal 2026 bertajuk “Sidang Para Setan” di auditorium UINSA Surabaya, kamis (20/8/2026) malam. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari naskah karya Joko Umbaran yang disutradarai oleh Abie. Pementasan ini menyajikan garapan komedi satire sosial-politik yang responsif terhadap dinamika politik dalam negeri. Pementasan tersebut mengusung nuansa satire yang kental untuk menyindir dinamika politik di Indonesia. Lewat balutan komedi gelap dan simbolis, pementasan ini menyelipkan berbagai isu sosial-politik aktual yang tengah hangat, seperti dinamika kekuasaan, kasus yang melibatkan seorang istri jenderal, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Abie sang sutradara menjelaskan bahwa pesan utama dari pentas ini adalah untuk membangun kesadaran publik terhadap isu politik nasional. “Sebenarnya, kan, memang akhir-akhir ini tepatnya di Indonesia juga politiknya agak hancur, ya. Bisa dibilang hancur mungkin. Jadi, saya mengangkat Sidang Para Setan ini, kan, sebenarnya dia itu ada satire-satirenya, juga yang mana satire ini menyindir tentang politik, tepatnya pada politik Indonesia. Mungkin dengan adanya pentas ini nggak berpengaruh, ya, cuma apa salahnya kami mencoba memengaruhi agar politik di Indonesia bisa lebih baik,” ungkapnya dalam sesi wawancara. Dipilihnya judul “Sidang Para Setan” juga sengaja dipertahankan karena dianggap memberi penegasan pada judul itu sendiri. Penggunaan konsep sidang dinilai lebih tegas karena memiliki batasan aturan dan instruksi yang jelas ketimbang sekadar rapat atau musyawarah. “Saya juga mikir karena memang (pementasan ini) dari awal tidak seperti sidang pada umumnya, kan. Cuma kalau dibuat (nama) “Musyawarah Para Setan” atau “Rapat Para Setan”, menurut saya, di situ tidak ada penegasan dari judul itu, tetapi kalau menggunakan nama “Sidang Para Setan” itu memang dari awal punya peraturan dan instruksi yang lainnya yang ada di dalam “Sidang Para Setan” itu sendiri,” ungkap Abie. Selain menjadi ajang yang membawa pesan kritik sosial, pementasan yang diselenggarakan oleh Teater Q juga menjadi ajang eksperimen estetika dalam mencoba keluar dari kejenuhan aliran naskah realis. Eksperimen nonrealis ini sengaja dipilih guna menghadirkan atmosfer panggung yang lebih segar dan dinamis. Proses penggarapan karya ini pun tak lepas dari dinamika internal. Sebagai seorang sutradara pemula, tantangan terbesar yang dihadapi Abie adalah menyatukan chemistry para pemain. Kesibukan perkuliahan para aktor membuat jadwal latihan bersama sulit disinkronkan, di samping harus mengelola mood para pemain di panggung. Kendati menghadapi tantangan dalam menyatukan chemistry serta menyelaraskan jadwal latihan di tengah padatnya jam kuliah para mahasiswa, pementasan tetap berjalan dengan sukses. Para aktor sukses membawakan karakter mereka dengan energik. Pentas ini menjadi bukti keberanian mahasiswa dalam menyuarakan suara kritis melalui ruang seni pertunjukan.

Lewat “Sidang Para Setan” Teater Q Suguhkan Komedi Satire Sebagai Cermin Realitas Negeri Read More »

WhatsApp Image 2026 08 19 At 13.25.02 1 1024x768

Perempuan, Lingkungan, dan Kerentanan dalam Diskusi Kumpulan Puisi Catatan Kaki Pembangunan Karya Ririe Rengganis

Penulis: Martabati Zulfa SURABAYA, Komunitas Sruntulisme kembali menyapa dengan menghadirkan gelaran diskusi terbuka bertajuk Sahibul Hikayat yang berlangsung pada Jumat malam (14/8/2026) di kedai kopi Alengka, Jambangan, Surabaya ini mengupas tuntas buku kumpulan puisi terbaru karya Ririe Rengganis yang berjudul Catatan Kaki Pembangunan. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Pelangi Sastra tersebut menyoroti beberapa isu tentang kerentanan, perempuan, dan lingkungan, serta diskusi terbuka yang menjadi ruang perjumpaan berbagai perspektif sastra dan sosial, seperti ekokritik, posthumanisme, hingga ekofeminisme. Dalam diskusi ini, Ririe Rengganis yang juga merupakan dosen Sastra Indonesia hadir langsung sebagai penulis, didampingi oleh Aniqo Dhamar ‘Asyuro sebagai pengulas, serta dipandu oleh Rizki Amir. Diskusi dibuka dengan pemicu menarik mengenai relasi manusia dan alam. Kerap kali manusia memandang hutan dan alam sebagai entitas yang diam sehingga dianggap wajar untuk dimanfaatkan secara masif tanpa henti. Puisi-puisi dalam Catatan Kaki Pembangunan memperlihatkan bagaimana masyarakat dan warga lokal kehilangan kuasa atas tempat tinggal mereka akibat pembangunan-pembangunan yang diinisiasi oleh negara. Di sisi lain, penulis menggunakan kacamata ekofeminisme dalam kumpulan puisinya, seperti penggunaan diksi ibu yang dieksplorasi secara mendalam untuk memperlihatkan kesejajaran antara eksploitasi terhadap alam dan marginalisasi terhadap perempuan. Puisi-puisi ini juga melayangkan penolakan terhadap logika pembangunan yang kerap mengorbankan masyarakat dan alam demi kepentingan proyek skala besar. Ririe Rengganis selaku penulis menegaskan bahwa buku ini lahir dari puncak muak dirinya yang mendengar janji-janji pembangunan, tetapi yang terjadi justru perusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia. “Ya, tetapi apakah kata pembangunan itu membawa dampak positif bagi rakyat yang konon katanya memerlukan pembangunan, tetapi ternyata tidak. Jadi, ketika banjir di Aceh itu menjadi puncak muak saya, ya ini akhirnya keluar. Jadi (kalau) ngomong soal pembangunan, pembangunan yang seperti apa? Pembakaran hutan, penebangan hutan, yang semuanya atas nama pembangunan. Sementara yang dikorbankan juga mereka yang tinggal di dalam wilayah-wilayah yang mestinya itu adalah bagian dari siklus hidup mereka,” tegasnya saat forum diskusi. Senada dengan hal tersebut, Aniqo turut menyoroti dampak nyata proyek pembangunan masif yang kerap meninggalkan luka ekologis, seperti lubang-lubang bekas tambang yang terabaikan dan menelan korban jiwa. “Dan saya juga melihat dan sering kali mendengar berita tentang anak kecil yang meninggal gara-gara masuk lubang tersebut, begitu sih menurut saya. Jadi, kayak misalkan memang harus banget benar-benar dilakukan itu pembangunan, tolong selesaikan sisa-sisanya itu biar tidak dari awal mengorbankan orang, sisanya juga malah mengorbankan orang lagi,” ujarnya. Selain itu, menanggapi isu ekofeminisme yang menjadi salah satu topik hangat dalam diskusi terbuka ini, para peserta yang hadir memberikan pertanyaan mengenai referensi dan makna ekofeminisme, Ririe Rengganis menyoroti karya-karya sastra seperti novel Lemah Tanjung karya Ratna Indraswari yang memperjuangkan keberadaan hutan kota dari gempuran kapitalisme. Kemudian, di ranah teori merujuk pada pemikiran Vandana Shiva—ilmuan perempuan asal India yang memperjuangkan isu lingkungan dan kemiskinan di negara dunia ketiga. Ririe Rengganis menegaska bahwa dalam sistem produksi dan eksploitasi alam, kaum perempuan sering kali menanggung beban ganda karena ketika alam dirusak akibat eksploitasi, perempuan adalah pihak yang paling rentan kehilangan sumber penghidupan. Lewat karyanya, Ririe Rengganis berharap publik kembali mempertanyakan arah kebijakan pembangunan nasional serta menyadarkan pentingnya menempatkan ekologi sebagai subjek utama dalam kehidupan berbangsa. Pada acara bertajuk Sahibul Hikayat, Sruntulisme tidak hanya menyajikan diskusi terbuka, tetapi juga menghadirkan beragam pertunjukan seni dan aksi literasi jalanan, di antaranya Stand Up Poetry bersama komunitas Cakrawala Kata, puisi on the spot yang dibawakan oleh Adnan Guntur dari Sastra Lumpur, dan juga bazar buku bekas dan murah. Forum ini menegaskan pentingnya menjaga kesadaran kritis dan terus menyuarakan kemanusiaan serta kelestarian lingkungan melalui karya sastra.

Perempuan, Lingkungan, dan Kerentanan dalam Diskusi Kumpulan Puisi Catatan Kaki Pembangunan Karya Ririe Rengganis Read More »

WhatsApp Image 2026 08 11 At 10.11.14 1024x767

Artistique Théâtre Angkat Isu Ketidakadilan Terhadap Perempuan dalam Pentasnya

Penulis: Martabati Zulfa SURABAYA, Ketidakadilan hukum terhadap korban bukan hanya isu semata, melainkan hal tersebut tak jarang seringkali dijumpai ketika korbannya adalah seorang perempuan. Melalui hal itu, Artistique Théâtre sebuah grup pertunjukan asal Paris, Perancis menggelar pementasan yang menampilkan beberapa lapis cerita yang berbeda dari setiap tokoh, serta  isu ketidakadilan hukum terhadap perempuan, sekaligus mengulik kembali kasus pemerkosaan dan pembunuhan seniman Pippa Bacca. Pementasan ”Le Filles De La Mer” atau Daughters of the Sea yang digelar pada pada Jumat malam (7/8/2026) di gedung Graha Sawunggaling UNESA, Artistique Théâtre mementaskan naskah drama kontemporer dengan memadukan unsur drama, tari, dan pertunjukan dalam satu pementasan. Dalam pentas tersebut menampilkan salah satu cerita mengenai 3 sosok perempuan, Meduse, Meira, dan Morgane yang terseret ke persidangan atas kasus pembunuhan terhadap seorang pria yang memperkosa dan membunuh perempuan asal Sinegal, Morphée. Melalui tokoh Morphée, ”Le Filles De La Mer” merepresentasikan kisah Pippa Bacca seorang seniman sekaligus aktivis perdamaian asal Italia yang diperkosa dan dibunuh ketika ia menumpang kendaraan dengan mengenakan gaun pengantin pada tahun 2008 di Turki. Lucile Cocito salah satu pemeran memberikan pendapatnya yang dibantu oleh Pramenda Krishna tentang kekerasan yang terjadi pada perempuan. ”Sayangnya, para perempuan di dunia ini banyak menjadi korban dari kekerasan seksual di dunia, tidak hanya di Perancis saja. Semua jenis kekerasan, psikologis, fisik, ekonomi, seksual. Ketika seorang perempuan bermigrasi atau berpindah negara lain itu yang dihadapi itu banyak sebelum berangkat saat perjalanan itu juga bisa menghadapi kejadian seperti itu,” ungkapnya dalam sesi wawancara. Dalam pentasnya Artistique Théâtre tidak hanya menyajikan cerita dengan tangan kosong, tapi turut serta menghadirkan gambaran alam secara nyata diatas panggung. Dengan bentuk panggung arena yang melingkar, Artistique Théâtre membawa dan menggunakan tanah, dan air sungguhan di tengah-tengah panggung sebagai peroperti. Hal tersebut mejadikan pertunjukan terasa lebih nyata dan dalam lewat percikan air dan jejak tanah yang tertinggal di sekitar panggung. Dalam sebuah wawancara Trisakti mengatakan bahwa pentas ”Le Filles De La Mer” membawa perspektif baru dalam menyampaikan ide dan makna. ”Ternyata untuk menyampaikan ide untuk ke penonton itu banyak hal yang bisa kita lakukan. Hal-hal yang tidak pernah kita lakukan yang memberikan makna tentang alam itu ternyata bisa menyatu, keren banget. Alam itu kan juga ada tanah, air, udara, dan ternyata digabungkan dengan sebuah ide dari realitas permasalahan itu menarik,” ujarnya.

Artistique Théâtre Angkat Isu Ketidakadilan Terhadap Perempuan dalam Pentasnya Read More »

1001366489 1024x749

Siapa Yang Sakit Jiwa Sebenarnya? Pasien RSJ atau Koruptor?

Di Balik Pentas Rumah Sakit Jiwa, Lakon Teater Koma yang Hidup Kembali Setelah 35 Tahun. Penulis: Muhammad Azhar Adi Mas’ud Ada lakon yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan. Namun, ada pula lakon yang justru terus hidup karena persoalan yang dibawanya tidak pernah benar-benar selesai. Rumah Sakit Jiwa adalah salah satunya. Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 1991, Teater Koma kembali menghidupkan lakon klasik karya N. Riantiarno tersebut pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pementasan ini menjadi produksi ke-237 Teater Koma. Naskah karya N. Riantiarno tersebut disutradarai oleh Rangga Riantiarno atau Rangga Maru. Pementasan ini juga mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation. Lebih dari sekadar mengulang sebuah pertunjukan lama, kembalinya Rumah Sakit Jiwa menjadi kesempatan untuk melihat kembali persoalan sosial yang ternyata belum banyak berubah. Cerita berpusat pada Dokter Rogusta, seorang dokter muda idealis yang berusaha membongkar praktik korupsi di sebuah rumah sakit jiwa. Di balik cerita tersebut, tersimpan kritik mengenai kekuasaan, kehidupan sosial, dan tekanan dunia luar yang perlahan dapat memengaruhi kondisi mental manusia. Korupsi dalam lakon ini bukan sekadar persoalan administrasi atau penyalahgunaan kekuasaan. Ia menjadi semacam “penyakit” yang terus menghantui. Setelah 35 tahun, hantu itu ternyata belum benar-benar pergi. Ia masih hadir dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat. Sebuah penyakit yang pada akhirnya bukan hanya merusak sistem, tetapi juga dapat membuat manusia kehilangan dirinya sendiri. Karena itu, pementasan ulang Rumah Sakit Jiwa terasa memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan hari ini. Dunia berubah begitu cepat. Tekanan sosial semakin beragam. Relasi kekuasaan semakin kompleks. Sementara itu, manusia terus berhadapan dengan berbagai kondisi dari luar dirinya yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Rangga Riantiarno melihat persoalan tersebut justru menjadi semakin menarik ketika naskah ini dibaca kembali setelah 35 tahun. Ketika pertama kali dipentaskan, internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, manusia hidup dalam dunia yang jauh lebih terkoneksi. Teknologi berkembang pesat. Bahkan, kecerdasan buatan atau AI mulai hadir dalam berbagai sisi kehidupan. “Dulu tidak ada internet, tapi isi dari naskah ini adalah serangan-serangan dari dunia ini bisa menjadi sumber kesakitan jiwa. Dan terutama sekarang ada AI, ini justru tahun sekarang semakin parah, bukan semakin baik,” ujar Rangga Riantiarno, sutradara pentas Rumah Sakit Jiwa. Bagi Rangga, kondisi tersebut membuat naskah yang ditulis 35 tahun lalu terasa seperti sedang berbicara kepada masyarakat hari ini. Waktu boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Namun, tekanan manusia terhadap manusia lain dan persoalan yang menyertainya tetap menemukan bentuk-bentuk baru.Di titik itulah kekuatan sebuah naskah teater diuji. Rumah Sakit Jiwa tidak sekadar menjadi artefak masa lalu. Ia kembali menemukan kehidupan ketika persoalan yang dibicarakannya masih dapat dikenali oleh penonton masa kini.

Siapa Yang Sakit Jiwa Sebenarnya? Pasien RSJ atau Koruptor? Read More »

IMG 20260727 225927 1024x595

Teater Soroti Isu Tambang: Rusak Tubuh Rusak Alam, Jadi Arsip yang Tersisa

Ada satu ironi yang selalu hadir dalam pembicaraan tentang pertambangan. Kita terbiasa menghitungnya dalam satuan produksi, investasi, atau kontribusi terhadap pembangunan, tetapi jarang bertanya bagaimana tubuh manusia menanggung seluruh proses itu. Statistik mampu menjelaskan berapa ton batu yang berhasil diangkat dari perut bumi, namun tidak pernah benar-benar menjelaskan berapa banyak tenaga, ketakutan, bahkan harapan yang ikut terkubur bersamanya.

Teater Soroti Isu Tambang: Rusak Tubuh Rusak Alam, Jadi Arsip yang Tersisa Read More »