Pameran Arsip Sastra dan Seni “Nasi dan Melati”: Upaya Menghidupkan Kembali Jejak Lekra dan Sastra Rakyat 1950-an
SURABAYA, Sebuah pameran arsip dan diskusi sastra “Nasi dan Melati serta Merdeka dan Tanah: Membaca Ulang Sastra Rakyat 50-an” resmi digelar di Rumah Studi Gangguan, Surabaya pada 23–30 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan kembali karya sastra dan arsip yang berkaitan dengan aktivitas kebudayaan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Surabaya pada dekade 1950-an. Pameran yang digagas oleh kolektif Studi Gangguan dan OHS ini menghadirkan jejak sejarah kebudayaan lewat arsip-arsip karya seni, surat kabar tua, hingga penerbitan sastra era 1950-an. Selain arsip mengenai seni grafis, pameran juga menampilkan surat kabar, majalah, karya sastra, serta dokumentasi sejumlah tokoh yang berkaitan dengan Lekra. Kurator pameran, Alfian Widi menjelaskan bahwa ide pameran ini berawal dari rencana penerbitan ulang kumpulan karya sastra Nasi dan Melati yang terbit pada tahun 1956. Momentum pameran ini sekaligus bertepatan dengan 70 tahun peringatan penerbitan karya tersebut. “Awalnya kami cuma mau bikin dan terbitin buku saja. Tapi setelah melihat dukungan dari berbagai pihak, kami rasa perlu memamerkan arsip-arsipnya agar publik bisa melihat langsung,” ujar Alfian di sela-sela pameran. Melalui pameran ini, Alfian ingin mengajak publik melihat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dari sudut pandang ruang produksi pengetahuan dan kebudayaan. Lekra didirikan pada 17 Agustus 1950 sebagai respons terhadap dinamika zaman pascakemerdekaan dan gerakan seni saat itu. Selain menampilkan arsip, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah program pendukung. Pengunjung dapat mengikuti diskusi, melihat penerbitan buku, serta menikmati jamuan makanan dan minuman yang mengambil inspirasi dari resep dalam buku yang berkaitan dengan materi pameran. Menurut Sarah Inas, perwakilan OHS, pameran ini tidak dimaksudkan sebagai kegiatan yang berhenti pada penampilan arsip semata. Pameran menjadi bagian dari rangkaian kerja kebudayaan yang dapat berlanjut melalui program Mantra Urban. “Enggak bisa dilihat cuma arsip doang, tapi kan arsip itu enggak berhenti. Redefinisi lagi lewat kegiatan-kegiatan begini, bertukar pendapat, terus memunculkan imajinasi ke depannya seperti apa,” kata Sarah. Melalui “Nasi dan Melati”, penelusuran terhadap sastra rakyat 1950-an sekaligus menjadi pintu untuk melihat dan membaca kembali bagaimana karya, ingatan, dan arsip kebudayaan masih tersimpan di luar institusi kearsipan formal dan membutuhkan upaya penelusuran serta dokumentasi secara berkelanjutan.









