Event

whatsapp image 2026 09 04 at 22.30.08

Lebih dari Sekadar Romantisme, “Awal dan Mira” Sentil Isu Reklamasi Surabaya dan Diskriminasi Rakyat Pesisir

Penulis: Martabati Zulfa SURABAYA, Gedung Cak Durasim, menjadi saksi suksesnya pementasan teater bertajuk “Awal dan Mira” yang dibawakan oleh kelompok Teater Sendratasik Surabaya pada Sabtu (22/8/2026) malam. Pertunjukan ini berhasil menyedot perhatian penonton melalui sajian seni pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengadaptasi sejumlah persoalan sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya isu reklamasi dan diskriminasi terhadap masyarakat pesisir. Naskah asli Awal dan Mira merupakan karya legendaris dari sastrawan Utuy T. Sontani yang ditulis pada tahun 1950-an. Pada versi originalnya cerita tersebut mengusung tema kesenjangan sosial dan kapitalisme namun, Yoga Yan Wardana sang sutradara bersama tim Teater Sendratasik, mengolah naskah tersebut dengan proses adaptasi dan kontekstualisasi agar selaras dengan dinamika sosial modern kota Surabaya. Yoga Yan Wardana, selaku sutradara menjelaskan bahwa perubahan isu ini disengaja agar pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan relevan dengan penonton setempat. Mengingat domisili kelompok teater berada di Surabaya, isu reklamasi pesisir dan dampak penggusuran menjadi pilihan utama untuk diangkat ke atas panggung. “Tapi memang dari Manajemen Talenta ini menghendaki untuk isunya itu yang kekinian dan kebetulan kelompok Teater Sendratasik ini berada di wilayah Surabaya, yang paling dekat isunya dan sesuai mungkin isu reklamasi,” ungkapnya pada sesi wawancara. Penggambaran nyata dari dampak reklamasi dan perusakan alam dapat dilihat jelas pada karakter Mira. Mira dimaknai sebagai karakter yang menjadi simbol  dari alam yang terdampak oleh tindakan manusia. Dalam pertunjukan tersebut, Mira digambarkan mengalami cacat pada bagian kaki setelah terlibat dalam aksi demonstrasi karena berjuang mempertahankan lingkungannya dan menolak reklamasi. Nabila Giri Ramadhani memberikan pendapatnya terkait karakter Mira yang diperankannya. Nabila menjelaskan bahwa karakter Mira tidak hanya berfungsi sebagai tokoh utama dalam kisah romantis, tetapi juga merepresentasikan kondisi alam yang mengalami kerusakan akibat pembangunan dan kepentingan manusia. ”Jadi di teater Awal dan Mira ini kita itu mengangkat isu reklamasi. Di mana Mira itu sepertinya sebagai simbol dari alam, yaitu keutuhan alam itu sendiri. Namun, Alam dihancurkan karena perbuatan manusia itu sendiri dengan pembangunan dan sebagainya,” jelasnya. Selain konflik romantisme dan isu lingkungan, pertunjukan ini juga dibumbui oleh unsur komedi satir. Yoga menegaskan bahwa unsur komedi digunakan sebagai bentuk satire agar kritik sosial dapat diterima penonton dengan cara yang lebih ringan.”Satir-satir tentang bagaimana semua cowok itu sama aja, tidak melihat jabatan dan segala macam, tetap suka menggoda cewek, catcalling, dan sebagainya. Kemudian naskah kami sesuaikan lagi menjadi bahasa-bahasa kekinian. Dan komedi yang menyindir ke khalayak umum. Jadi bagaimana mereka bisa menerima, mereka bisa sadar, khususnya tentang isu reklamasi ini,” ungkap Yoga.. Proses mentransformasikan naskah teks menjadi seni pertunjukan panggung penuh aksi diakui menyimpan tantangan tersendiri. Tim Teater Sendratasik melakukan serangkaian tahapan intensif, mulai dari bedah naskah, pendalaman karakter, observasi lapangan, hingga eksplorasi keaktoran dan musik pengiring. Melalui Awal dan Mira, Teater Sendratasik tidak hanya menghadirkan kisah hubungan antara dua tokoh, tetapi juga mencoba mempertemukan karya sastra dengan persoalan sosial yang sedang berlangsung. Melalui adaptasi tersebut menjadi cara untuk menjadikan panggung teater sebagai ruang refleksi terhadap isu reklamasi, kesenjangan, diskriminasi, dan perilaku sosial di tengah masyarakat.

Lebih dari Sekadar Romantisme, “Awal dan Mira” Sentil Isu Reklamasi Surabaya dan Diskriminasi Rakyat Pesisir Read More »

Lewat “Sidang Para Setan” Teater Q Suguhkan Komedi Satire Sebagai Cermin Realitas Negeri

SURABAYA, Teater Q Surabaya sukses menggelar panggung pertunjukan lewat pentas tunggal 2026 bertajuk “Sidang Para Setan” di auditorium UINSA Surabaya, kamis (20/8/2026) malam. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari naskah karya Joko Umbaran yang disutradarai oleh Abie. Pementasan ini menyajikan garapan komedi satire sosial-politik yang responsif terhadap dinamika politik dalam negeri. Pementasan tersebut mengusung nuansa satire yang kental untuk menyindir dinamika politik di Indonesia. Lewat balutan komedi gelap dan simbolis, pementasan ini menyelipkan berbagai isu sosial-politik aktual yang tengah hangat, seperti dinamika kekuasaan, kasus yang melibatkan seorang istri jenderal, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG). Abie sang sutradara menjelaskan bahwa pesan utama dari pentas ini adalah untuk membangun kesadaran publik terhadap isu politik nasional. “Sebenarnya, kan, memang akhir-akhir ini tepatnya di Indonesia juga politiknya agak hancur, ya. Bisa dibilang hancur mungkin. Jadi, saya mengangkat Sidang Para Setan ini, kan, sebenarnya dia itu ada satire-satirenya, juga yang mana satire ini menyindir tentang politik, tepatnya pada politik Indonesia. Mungkin dengan adanya pentas ini nggak berpengaruh, ya, cuma apa salahnya kami mencoba memengaruhi agar politik di Indonesia bisa lebih baik,” ungkapnya dalam sesi wawancara. Dipilihnya judul “Sidang Para Setan” juga sengaja dipertahankan karena dianggap memberi penegasan pada judul itu sendiri. Penggunaan konsep sidang dinilai lebih tegas karena memiliki batasan aturan dan instruksi yang jelas ketimbang sekadar rapat atau musyawarah. “Saya juga mikir karena memang (pementasan ini) dari awal tidak seperti sidang pada umumnya, kan. Cuma kalau dibuat (nama) “Musyawarah Para Setan” atau “Rapat Para Setan”, menurut saya, di situ tidak ada penegasan dari judul itu, tetapi kalau menggunakan nama “Sidang Para Setan” itu memang dari awal punya peraturan dan instruksi yang lainnya yang ada di dalam “Sidang Para Setan” itu sendiri,” ungkap Abie. Selain menjadi ajang yang membawa pesan kritik sosial, pementasan yang diselenggarakan oleh Teater Q juga menjadi ajang eksperimen estetika dalam mencoba keluar dari kejenuhan aliran naskah realis. Eksperimen nonrealis ini sengaja dipilih guna menghadirkan atmosfer panggung yang lebih segar dan dinamis. Proses penggarapan karya ini pun tak lepas dari dinamika internal. Sebagai seorang sutradara pemula, tantangan terbesar yang dihadapi Abie adalah menyatukan chemistry para pemain. Kesibukan perkuliahan para aktor membuat jadwal latihan bersama sulit disinkronkan, di samping harus mengelola mood para pemain di panggung. Kendati menghadapi tantangan dalam menyatukan chemistry serta menyelaraskan jadwal latihan di tengah padatnya jam kuliah para mahasiswa, pementasan tetap berjalan dengan sukses. Para aktor sukses membawakan karakter mereka dengan energik. Pentas ini menjadi bukti keberanian mahasiswa dalam menyuarakan suara kritis melalui ruang seni pertunjukan.

Lewat “Sidang Para Setan” Teater Q Suguhkan Komedi Satire Sebagai Cermin Realitas Negeri Read More »

WhatsApp Image 2026 08 19 At 13.25.02 1 1024x768

Perempuan, Lingkungan, dan Kerentanan dalam Diskusi Kumpulan Puisi Catatan Kaki Pembangunan Karya Ririe Rengganis

Penulis: Martabati Zulfa SURABAYA, Komunitas Sruntulisme kembali menyapa dengan menghadirkan gelaran diskusi terbuka bertajuk Sahibul Hikayat yang berlangsung pada Jumat malam (14/8/2026) di kedai kopi Alengka, Jambangan, Surabaya ini mengupas tuntas buku kumpulan puisi terbaru karya Ririe Rengganis yang berjudul Catatan Kaki Pembangunan. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Pelangi Sastra tersebut menyoroti beberapa isu tentang kerentanan, perempuan, dan lingkungan, serta diskusi terbuka yang menjadi ruang perjumpaan berbagai perspektif sastra dan sosial, seperti ekokritik, posthumanisme, hingga ekofeminisme. Dalam diskusi ini, Ririe Rengganis yang juga merupakan dosen Sastra Indonesia hadir langsung sebagai penulis, didampingi oleh Aniqo Dhamar ‘Asyuro sebagai pengulas, serta dipandu oleh Rizki Amir. Diskusi dibuka dengan pemicu menarik mengenai relasi manusia dan alam. Kerap kali manusia memandang hutan dan alam sebagai entitas yang diam sehingga dianggap wajar untuk dimanfaatkan secara masif tanpa henti. Puisi-puisi dalam Catatan Kaki Pembangunan memperlihatkan bagaimana masyarakat dan warga lokal kehilangan kuasa atas tempat tinggal mereka akibat pembangunan-pembangunan yang diinisiasi oleh negara. Di sisi lain, penulis menggunakan kacamata ekofeminisme dalam kumpulan puisinya, seperti penggunaan diksi ibu yang dieksplorasi secara mendalam untuk memperlihatkan kesejajaran antara eksploitasi terhadap alam dan marginalisasi terhadap perempuan. Puisi-puisi ini juga melayangkan penolakan terhadap logika pembangunan yang kerap mengorbankan masyarakat dan alam demi kepentingan proyek skala besar. Ririe Rengganis selaku penulis menegaskan bahwa buku ini lahir dari puncak muak dirinya yang mendengar janji-janji pembangunan, tetapi yang terjadi justru perusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia. “Ya, tetapi apakah kata pembangunan itu membawa dampak positif bagi rakyat yang konon katanya memerlukan pembangunan, tetapi ternyata tidak. Jadi, ketika banjir di Aceh itu menjadi puncak muak saya, ya ini akhirnya keluar. Jadi (kalau) ngomong soal pembangunan, pembangunan yang seperti apa? Pembakaran hutan, penebangan hutan, yang semuanya atas nama pembangunan. Sementara yang dikorbankan juga mereka yang tinggal di dalam wilayah-wilayah yang mestinya itu adalah bagian dari siklus hidup mereka,” tegasnya saat forum diskusi. Senada dengan hal tersebut, Aniqo turut menyoroti dampak nyata proyek pembangunan masif yang kerap meninggalkan luka ekologis, seperti lubang-lubang bekas tambang yang terabaikan dan menelan korban jiwa. “Dan saya juga melihat dan sering kali mendengar berita tentang anak kecil yang meninggal gara-gara masuk lubang tersebut, begitu sih menurut saya. Jadi, kayak misalkan memang harus banget benar-benar dilakukan itu pembangunan, tolong selesaikan sisa-sisanya itu biar tidak dari awal mengorbankan orang, sisanya juga malah mengorbankan orang lagi,” ujarnya. Selain itu, menanggapi isu ekofeminisme yang menjadi salah satu topik hangat dalam diskusi terbuka ini, para peserta yang hadir memberikan pertanyaan mengenai referensi dan makna ekofeminisme, Ririe Rengganis menyoroti karya-karya sastra seperti novel Lemah Tanjung karya Ratna Indraswari yang memperjuangkan keberadaan hutan kota dari gempuran kapitalisme. Kemudian, di ranah teori merujuk pada pemikiran Vandana Shiva—ilmuan perempuan asal India yang memperjuangkan isu lingkungan dan kemiskinan di negara dunia ketiga. Ririe Rengganis menegaska bahwa dalam sistem produksi dan eksploitasi alam, kaum perempuan sering kali menanggung beban ganda karena ketika alam dirusak akibat eksploitasi, perempuan adalah pihak yang paling rentan kehilangan sumber penghidupan. Lewat karyanya, Ririe Rengganis berharap publik kembali mempertanyakan arah kebijakan pembangunan nasional serta menyadarkan pentingnya menempatkan ekologi sebagai subjek utama dalam kehidupan berbangsa. Pada acara bertajuk Sahibul Hikayat, Sruntulisme tidak hanya menyajikan diskusi terbuka, tetapi juga menghadirkan beragam pertunjukan seni dan aksi literasi jalanan, di antaranya Stand Up Poetry bersama komunitas Cakrawala Kata, puisi on the spot yang dibawakan oleh Adnan Guntur dari Sastra Lumpur, dan juga bazar buku bekas dan murah. Forum ini menegaskan pentingnya menjaga kesadaran kritis dan terus menyuarakan kemanusiaan serta kelestarian lingkungan melalui karya sastra.

Perempuan, Lingkungan, dan Kerentanan dalam Diskusi Kumpulan Puisi Catatan Kaki Pembangunan Karya Ririe Rengganis Read More »

WhatsApp Image 2026 08 11 At 10.11.14 1024x767

Artistique Théâtre Angkat Isu Ketidakadilan Terhadap Perempuan dalam Pentasnya

Penulis: Martabati Zulfa SURABAYA, Ketidakadilan hukum terhadap korban bukan hanya isu semata, melainkan hal tersebut tak jarang seringkali dijumpai ketika korbannya adalah seorang perempuan. Melalui hal itu, Artistique Théâtre sebuah grup pertunjukan asal Paris, Perancis menggelar pementasan yang menampilkan beberapa lapis cerita yang berbeda dari setiap tokoh, serta  isu ketidakadilan hukum terhadap perempuan, sekaligus mengulik kembali kasus pemerkosaan dan pembunuhan seniman Pippa Bacca. Pementasan ”Le Filles De La Mer” atau Daughters of the Sea yang digelar pada pada Jumat malam (7/8/2026) di gedung Graha Sawunggaling UNESA, Artistique Théâtre mementaskan naskah drama kontemporer dengan memadukan unsur drama, tari, dan pertunjukan dalam satu pementasan. Dalam pentas tersebut menampilkan salah satu cerita mengenai 3 sosok perempuan, Meduse, Meira, dan Morgane yang terseret ke persidangan atas kasus pembunuhan terhadap seorang pria yang memperkosa dan membunuh perempuan asal Sinegal, Morphée. Melalui tokoh Morphée, ”Le Filles De La Mer” merepresentasikan kisah Pippa Bacca seorang seniman sekaligus aktivis perdamaian asal Italia yang diperkosa dan dibunuh ketika ia menumpang kendaraan dengan mengenakan gaun pengantin pada tahun 2008 di Turki. Lucile Cocito salah satu pemeran memberikan pendapatnya yang dibantu oleh Pramenda Krishna tentang kekerasan yang terjadi pada perempuan. ”Sayangnya, para perempuan di dunia ini banyak menjadi korban dari kekerasan seksual di dunia, tidak hanya di Perancis saja. Semua jenis kekerasan, psikologis, fisik, ekonomi, seksual. Ketika seorang perempuan bermigrasi atau berpindah negara lain itu yang dihadapi itu banyak sebelum berangkat saat perjalanan itu juga bisa menghadapi kejadian seperti itu,” ungkapnya dalam sesi wawancara. Dalam pentasnya Artistique Théâtre tidak hanya menyajikan cerita dengan tangan kosong, tapi turut serta menghadirkan gambaran alam secara nyata diatas panggung. Dengan bentuk panggung arena yang melingkar, Artistique Théâtre membawa dan menggunakan tanah, dan air sungguhan di tengah-tengah panggung sebagai peroperti. Hal tersebut mejadikan pertunjukan terasa lebih nyata dan dalam lewat percikan air dan jejak tanah yang tertinggal di sekitar panggung. Dalam sebuah wawancara Trisakti mengatakan bahwa pentas ”Le Filles De La Mer” membawa perspektif baru dalam menyampaikan ide dan makna. ”Ternyata untuk menyampaikan ide untuk ke penonton itu banyak hal yang bisa kita lakukan. Hal-hal yang tidak pernah kita lakukan yang memberikan makna tentang alam itu ternyata bisa menyatu, keren banget. Alam itu kan juga ada tanah, air, udara, dan ternyata digabungkan dengan sebuah ide dari realitas permasalahan itu menarik,” ujarnya.

Artistique Théâtre Angkat Isu Ketidakadilan Terhadap Perempuan dalam Pentasnya Read More »

1001366489 1024x749

Siapa Yang Sakit Jiwa Sebenarnya? Pasien RSJ atau Koruptor?

Di Balik Pentas Rumah Sakit Jiwa, Lakon Teater Koma yang Hidup Kembali Setelah 35 Tahun. Penulis: Muhammad Azhar Adi Mas’ud Ada lakon yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan. Namun, ada pula lakon yang justru terus hidup karena persoalan yang dibawanya tidak pernah benar-benar selesai. Rumah Sakit Jiwa adalah salah satunya. Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 1991, Teater Koma kembali menghidupkan lakon klasik karya N. Riantiarno tersebut pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Pementasan ini menjadi produksi ke-237 Teater Koma. Naskah karya N. Riantiarno tersebut disutradarai oleh Rangga Riantiarno atau Rangga Maru. Pementasan ini juga mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation. Lebih dari sekadar mengulang sebuah pertunjukan lama, kembalinya Rumah Sakit Jiwa menjadi kesempatan untuk melihat kembali persoalan sosial yang ternyata belum banyak berubah. Cerita berpusat pada Dokter Rogusta, seorang dokter muda idealis yang berusaha membongkar praktik korupsi di sebuah rumah sakit jiwa. Di balik cerita tersebut, tersimpan kritik mengenai kekuasaan, kehidupan sosial, dan tekanan dunia luar yang perlahan dapat memengaruhi kondisi mental manusia. Korupsi dalam lakon ini bukan sekadar persoalan administrasi atau penyalahgunaan kekuasaan. Ia menjadi semacam “penyakit” yang terus menghantui. Setelah 35 tahun, hantu itu ternyata belum benar-benar pergi. Ia masih hadir dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat. Sebuah penyakit yang pada akhirnya bukan hanya merusak sistem, tetapi juga dapat membuat manusia kehilangan dirinya sendiri. Karena itu, pementasan ulang Rumah Sakit Jiwa terasa memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan hari ini. Dunia berubah begitu cepat. Tekanan sosial semakin beragam. Relasi kekuasaan semakin kompleks. Sementara itu, manusia terus berhadapan dengan berbagai kondisi dari luar dirinya yang dapat memengaruhi kesehatan mental. Rangga Riantiarno melihat persoalan tersebut justru menjadi semakin menarik ketika naskah ini dibaca kembali setelah 35 tahun. Ketika pertama kali dipentaskan, internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, manusia hidup dalam dunia yang jauh lebih terkoneksi. Teknologi berkembang pesat. Bahkan, kecerdasan buatan atau AI mulai hadir dalam berbagai sisi kehidupan. “Dulu tidak ada internet, tapi isi dari naskah ini adalah serangan-serangan dari dunia ini bisa menjadi sumber kesakitan jiwa. Dan terutama sekarang ada AI, ini justru tahun sekarang semakin parah, bukan semakin baik,” ujar Rangga Riantiarno, sutradara pentas Rumah Sakit Jiwa. Bagi Rangga, kondisi tersebut membuat naskah yang ditulis 35 tahun lalu terasa seperti sedang berbicara kepada masyarakat hari ini. Waktu boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Namun, tekanan manusia terhadap manusia lain dan persoalan yang menyertainya tetap menemukan bentuk-bentuk baru.Di titik itulah kekuatan sebuah naskah teater diuji. Rumah Sakit Jiwa tidak sekadar menjadi artefak masa lalu. Ia kembali menemukan kehidupan ketika persoalan yang dibicarakannya masih dapat dikenali oleh penonton masa kini.

Siapa Yang Sakit Jiwa Sebenarnya? Pasien RSJ atau Koruptor? Read More »

IMG 20260727 225927 1024x595

Teater Soroti Isu Tambang: Rusak Tubuh Rusak Alam, Jadi Arsip yang Tersisa

Ada satu ironi yang selalu hadir dalam pembicaraan tentang pertambangan. Kita terbiasa menghitungnya dalam satuan produksi, investasi, atau kontribusi terhadap pembangunan, tetapi jarang bertanya bagaimana tubuh manusia menanggung seluruh proses itu. Statistik mampu menjelaskan berapa ton batu yang berhasil diangkat dari perut bumi, namun tidak pernah benar-benar menjelaskan berapa banyak tenaga, ketakutan, bahkan harapan yang ikut terkubur bersamanya.

Teater Soroti Isu Tambang: Rusak Tubuh Rusak Alam, Jadi Arsip yang Tersisa Read More »