Siapa Yang Sakit Jiwa Sebenarnya? Pasien RSJ atau Koruptor?

1001366489 1024x749

Di Balik Pentas Rumah Sakit Jiwa, Lakon Teater Koma yang Hidup Kembali Setelah 35 Tahun.

Penulis: Muhammad Azhar Adi Mas’ud

Ada lakon yang selesai ketika lampu panggung dipadamkan. Namun, ada pula lakon yang justru terus hidup karena persoalan yang dibawanya tidak pernah benar-benar selesai. Rumah Sakit Jiwa adalah salah satunya. Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 1991, Teater Koma kembali menghidupkan lakon klasik karya N. Riantiarno tersebut pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Pementasan ini menjadi produksi ke-237 Teater Koma. Naskah karya N. Riantiarno tersebut disutradarai oleh Rangga Riantiarno atau Rangga Maru. Pementasan ini juga mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation. Lebih dari sekadar mengulang sebuah pertunjukan lama, kembalinya Rumah Sakit Jiwa menjadi kesempatan untuk melihat kembali persoalan sosial yang ternyata belum banyak berubah.

1001366371 1

Cerita berpusat pada Dokter Rogusta, seorang dokter muda idealis yang berusaha membongkar praktik korupsi di sebuah rumah sakit jiwa. Di balik cerita tersebut, tersimpan kritik mengenai kekuasaan, kehidupan sosial, dan tekanan dunia luar yang perlahan dapat memengaruhi kondisi mental manusia.

Korupsi dalam lakon ini bukan sekadar persoalan administrasi atau penyalahgunaan kekuasaan. Ia menjadi semacam “penyakit” yang terus menghantui. Setelah 35 tahun, hantu itu ternyata belum benar-benar pergi. Ia masih hadir dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat. Sebuah penyakit yang pada akhirnya bukan hanya merusak sistem, tetapi juga dapat membuat manusia kehilangan dirinya sendiri.

Karena itu, pementasan ulang Rumah Sakit Jiwa terasa memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan hari ini. Dunia berubah begitu cepat. Tekanan sosial semakin beragam. Relasi kekuasaan semakin kompleks. Sementara itu, manusia terus berhadapan dengan berbagai kondisi dari luar dirinya yang dapat memengaruhi kesehatan mental.

IMG 20260810 19043732 E1786368161933

Rangga Riantiarno melihat persoalan tersebut justru menjadi semakin menarik ketika naskah ini dibaca kembali setelah 35 tahun. Ketika pertama kali dipentaskan, internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kini, manusia hidup dalam dunia yang jauh lebih terkoneksi. Teknologi berkembang pesat. Bahkan, kecerdasan buatan atau AI mulai hadir dalam berbagai sisi kehidupan.

“Dulu tidak ada internet, tapi isi dari naskah ini adalah serangan-serangan dari dunia ini bisa menjadi sumber kesakitan jiwa. Dan terutama sekarang ada AI, ini justru tahun sekarang semakin parah, bukan semakin baik,” ujar Rangga Riantiarno, sutradara pentas Rumah Sakit Jiwa.

Bagi Rangga, kondisi tersebut membuat naskah yang ditulis 35 tahun lalu terasa seperti sedang berbicara kepada masyarakat hari ini. Waktu boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Namun, tekanan manusia terhadap manusia lain dan persoalan yang menyertainya tetap menemukan bentuk-bentuk baru.Di titik itulah kekuatan sebuah naskah teater diuji. Rumah Sakit Jiwa tidak sekadar menjadi artefak masa lalu. Ia kembali menemukan kehidupan ketika persoalan yang dibicarakannya masih dapat dikenali oleh penonton masa kini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *