Penulis: Martabati Zulfa
SURABAYA, Gedung Cak Durasim, menjadi saksi suksesnya pementasan teater bertajuk “Awal dan Mira” yang dibawakan oleh kelompok Teater Sendratasik Surabaya pada Sabtu (22/8/2026) malam. Pertunjukan ini berhasil menyedot perhatian penonton melalui sajian seni pertunjukan yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengadaptasi sejumlah persoalan sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya isu reklamasi dan diskriminasi terhadap masyarakat pesisir.
Naskah asli Awal dan Mira merupakan karya legendaris dari sastrawan Utuy T. Sontani yang ditulis pada tahun 1950-an. Pada versi originalnya cerita tersebut mengusung tema kesenjangan sosial dan kapitalisme namun, Yoga Yan Wardana sang sutradara bersama tim Teater Sendratasik, mengolah naskah tersebut dengan proses adaptasi dan kontekstualisasi agar selaras dengan dinamika sosial modern kota Surabaya.
Yoga Yan Wardana, selaku sutradara menjelaskan bahwa perubahan isu ini disengaja agar pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan relevan dengan penonton setempat. Mengingat domisili kelompok teater berada di Surabaya, isu reklamasi pesisir dan dampak penggusuran menjadi pilihan utama untuk diangkat ke atas panggung. “Tapi memang dari Manajemen Talenta ini menghendaki untuk isunya itu yang kekinian dan kebetulan kelompok Teater Sendratasik ini berada di wilayah Surabaya, yang paling dekat isunya dan sesuai mungkin isu reklamasi,” ungkapnya pada sesi wawancara.
Penggambaran nyata dari dampak reklamasi dan perusakan alam dapat dilihat jelas pada karakter Mira. Mira dimaknai sebagai karakter yang menjadi simbol dari alam yang terdampak oleh tindakan manusia. Dalam pertunjukan tersebut, Mira digambarkan mengalami cacat pada bagian kaki setelah terlibat dalam aksi demonstrasi karena berjuang mempertahankan lingkungannya dan menolak reklamasi.
Nabila Giri Ramadhani memberikan pendapatnya terkait karakter Mira yang diperankannya. Nabila menjelaskan bahwa karakter Mira tidak hanya berfungsi sebagai tokoh utama dalam kisah romantis, tetapi juga merepresentasikan kondisi alam yang mengalami kerusakan akibat pembangunan dan kepentingan manusia. ”Jadi di teater Awal dan Mira ini kita itu mengangkat isu reklamasi. Di mana Mira itu sepertinya sebagai simbol dari alam, yaitu keutuhan alam itu sendiri. Namun, Alam dihancurkan karena perbuatan manusia itu sendiri dengan pembangunan dan sebagainya,” jelasnya.
Selain konflik romantisme dan isu lingkungan, pertunjukan ini juga dibumbui oleh unsur komedi satir. Yoga menegaskan bahwa unsur komedi digunakan sebagai bentuk satire agar kritik sosial dapat diterima penonton dengan cara yang lebih ringan.”Satir-satir tentang bagaimana semua cowok itu sama aja, tidak melihat jabatan dan segala macam, tetap suka menggoda cewek, catcalling, dan sebagainya. Kemudian naskah kami sesuaikan lagi menjadi bahasa-bahasa kekinian. Dan komedi yang menyindir ke khalayak umum. Jadi bagaimana mereka bisa menerima, mereka bisa sadar, khususnya tentang isu reklamasi ini,” ungkap Yoga..
Proses mentransformasikan naskah teks menjadi seni pertunjukan panggung penuh aksi diakui menyimpan tantangan tersendiri. Tim Teater Sendratasik melakukan serangkaian tahapan intensif, mulai dari bedah naskah, pendalaman karakter, observasi lapangan, hingga eksplorasi keaktoran dan musik pengiring.
Melalui Awal dan Mira, Teater Sendratasik tidak hanya menghadirkan kisah hubungan antara dua tokoh, tetapi juga mencoba mempertemukan karya sastra dengan persoalan sosial yang sedang berlangsung. Melalui adaptasi tersebut menjadi cara untuk menjadikan panggung teater sebagai ruang refleksi terhadap isu reklamasi, kesenjangan, diskriminasi, dan perilaku sosial di tengah masyarakat.

