Ilusi dan Ratapan Ibu di Dalam Kaleng Sarden

WhatsApp Image 2026 08 14 At 22.46.05 1024x790

Rizki Amir, selain seorang penyair ia adalah seorang pedagang ulung. Semenjak kuliah ia aktif menjual buku, khususnya buku-buku yang berkaitan dengan sastra. Darah pedagang mengalir dari Almarhum Ayahnya yang kala itu merupakan seorang pedagang tahu yang sukses. Pada mulanya, Rizki berupaya mengakrabi identitas dirinya yang lebih dekat dengan pasar. Kemudian seiring berproses, ia melakukan perjalanan mengelilingi berbagai pasar tradisional di wilayah urban Surabaya – Sidoarjo. Dari perjalanan pasar satu ke pasar yang lain, ia berhasil menciptakan buku kumpulan puisi berjudul Rahasia Pasar. Buku yang mengantarkannya terbang menuju Ubud Writers & Readers Festival 2017 lalu.

Selain identitas pedagang pasar yang melekat pada dirinya, Rizki juga akrab dalam persoalan makanan – mengingat dagangan Ayahnya adalah tahu, yang notabene kerap kita jumpai di pasar-pasar tradisional. Ruang tubuh dan ruang domestik Rizki seolah tidak bisa dilepaskan dari persoalan perdagangan, pasar, dan makanan.  Hal tersebut dapat kita lihat dari buku kumpulan puisi keduanya yag berjudul Sarden Yang Ringan.

Di dalam buku ini persoalan makanan tidak lepas dari persoalan domestik, khususnya dapur. Dapur menjadi komoditas penting dalam suatu keluarga. Sederhanya, kesejahteraan suatu keluarga dapat diukur dari dapurnya, apabila dapurnya kosong dari bahan pangan, tentu suatu keluarga itu dapat dikatakan nir-sejahtera. Namun apabila dapur rumah milik suatu keluarga itu terus mengepul, maka keluarga itu cukup sejahtera.

Mengapa demikian? Karena kebutuhan pokok yang paling utama pada diri manusia adalah makanan dan minuman. Orang bisa bertahan hidup apabila tidak memiliki rumah mewah, mobil bagus, atau barang-barang branded lainnya, asalkan perut orang itu tidak pernah kosong. Tetapi orang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa memakan apapun.

Saya mengutip satu kalimat menarik dari puisi Rizki yang cukup mengejutkan sekaligus ironi. Kalimat ini terdapat dalam potongan puisi Sarden Yang Ringan.

2. seandainya aku bisa memilih maka hanya kupilih satu ikan yang ringan. ikan dengan daging lembut sepanjang lengan. yang akan kulumuri jeruk nipis dan garam, kupotong jadi enam bagian. sebab, di timbangan sebelah sana, nasib seperti perjalanan yang tak tercatat. tapi aku tak mampu mengudar dapur yang gemetar. bukan, itu bukan batas kaki meja yang sederhana. lalu lapar berhenti sejenak. kemudian kamu menjawil dan menanya: “perutku seperti lau, bu. tapi mengapa tidak ada ikannya?”

Rizki membuka bait kedua dalam puisinya dengan kata seandainya, dimana kata ini menunjukkan bahwa tokoh aku sedang melamunkan sesuatu. Sesuatu yang bisa dipilih untuk dimasak dengan lumuran jeruk nipis dan garam, yaitu potongan ikan sarden yang barangkali bisa ia makan dengan nikmat. Tetapi di kalimat selanjutnya, Rizki membuat tokoh aku menyadari bahwa ia sedang berandai-andai, sehingga ia harus kembali meratapi nasibnya.

Kemudian ia melanjutkan dengan kalimat tapi aku tak mampu mengudar dapur yang gemetar. Hal ini menunjukkan bahwa tokoh aku – seperti penjelasan sebelumnya – menyatakan bahwa dapur merupakan penanda kesejahteraan suatu keluarga, khususnya di ruang domestik. Adapun gemetar merujuk pada suatu kondisi yang tidak baik-baik saja, atau sesuatu yang menakutkan. Artinya, dapur yang gemetar, menandai bahwa tidak ada yang bisa dimasak, yang ada hanyalah ilusi dan ratapan geitr yang menakutkan. Sedangkan ilusi dan ratapan ini seringkali menyerang kaum papa yang kelaparan seperti tokoh aku.

Ilusi dan ratapan yang mengambang di langit jauh itu kemudian ditarik ke bawah lalu melesat dilemparkan ke sudut-sudut dapur paling kering oleh tokoh kamu dengan cara menjawil dan menanya sesuatu kepada tokoh aku. Pertanyaan itu adalah “perutku seperti laut, bu. tapi mengapa tidak ada ikannya?”.  

Laut secara harfiah merupakan ruang yang begitu luas dan di dalamnya terdapat kehidupan. Dalam kalimat ini, Rizki mensejajarkan laut dengan perut. Rizki menunjukan bahwa perut manusia dapat menampung berbagai jenis makanan seperti laut yang di dalamnya menampung berbagai jenis makhluk hidup, khususnya ikan. Perut yang luas seperti laut, tetapi tidak ada ikan di dalamnya, tentu merujuk pada konteks perut kosong atau perut yang mengalami rasa lapar.

Pada konteks ini, Rizki berhasil membuat plot twist dalam puisinya. Rizki ternyata tidak sekadar mencari identitas dirinya melalui pasar tradisional, transaksi perdagangan, dan persoalan makanan semata. Lebih dari itu, Rizki sedang mendudukkan perkara penting yang kerap menyerang kehidupan masyarakat kita, terutama di wilayah urban. Perkara penting ini adalah kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup, yaitu sumber daya pangan.

Rizki membalut perkara tersebut dalam puisi berjudul Sarden Yang Ringan, dimana Sarden merupakan makanan kaleng yang cukup mewah di kalangan kaum papa wilayah urban. Di dalam Sarden ada ikan, dan ikan begitu dibutuhkan oleh anak usia produktif belajar sebagai sumber gizi.

Dalam puisi, Rizki mendudukkan tokoh aku (ibu) sebagai subaltern masyarakat urban yang berharap dapat memenuhi kebutuhan gizi anaknya (tokoh kamu) dengan cara memasak ikan sarden walau barang sedikit, tetapi harapan itu runtuh, harapan itu berubah jadi ilusi dan ratapan semata.   

Menyelami puisi Rizki sama halnya menyelami ke dalam diri sekaligus kesadaran kita bersama. Ilusi dan Ratapan seorang Ibu yang tidak bisa memberikan makanan bergizi kepada anaknya dalam puisi Sarden Yang Ringan merupakan persoalan penting yang kerap terjadi di tengah masyarakat sosial kita. Persoalan penting yang harus diselesaikan, dan yang akan berpengaruh terhadap masa depan anak sekaligus bangsa kita. 

Pun saya pikir, puisi Rizki adalah pijakan untuk kita kembali bertanya, baik pada diri sendiri, publik, maupun pemerintah. Mengapa seorang Ibu tidak bisa memberikan makan bergizi kepada anaknya? Apabila kemiskinan adalah jawaban logisnya. Namun apakah kemiskinan bisa diselesaikan hanya dengan memberi makan siang gratis kepada anak-anak atau kaum miskin semata? Sedangkan roda kehidupan terus berjalan beriringan dengan roda perekonomian. Sedangkan nasib seseorang adalah perjalanan panjang yang tak pernah bisa dicatat rapi di dalam undang-undang dasar negara kita.

Sebagai penutup, saya mengutip puisi Rendra: “Kepadamu, aku bertanya…” 

2025

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *