SURABAYA, Teater Q Surabaya sukses menggelar panggung pertunjukan lewat pentas tunggal 2026 bertajuk “Sidang Para Setan” di auditorium UINSA Surabaya, kamis (20/8/2026) malam. Pertunjukan ini merupakan adaptasi dari naskah karya Joko Umbaran yang disutradarai oleh Abie. Pementasan ini menyajikan garapan komedi satire sosial-politik yang responsif terhadap dinamika politik dalam negeri.
Pementasan tersebut mengusung nuansa satire yang kental untuk menyindir dinamika politik di Indonesia. Lewat balutan komedi gelap dan simbolis, pementasan ini menyelipkan berbagai isu sosial-politik aktual yang tengah hangat, seperti dinamika kekuasaan, kasus yang melibatkan seorang istri jenderal, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Abie sang sutradara menjelaskan bahwa pesan utama dari pentas ini adalah untuk membangun kesadaran publik terhadap isu politik nasional. “Sebenarnya, kan, memang akhir-akhir ini tepatnya di Indonesia juga politiknya agak hancur, ya. Bisa dibilang hancur mungkin. Jadi, saya mengangkat Sidang Para Setan ini, kan, sebenarnya dia itu ada satire-satirenya, juga yang mana satire ini menyindir tentang politik, tepatnya pada politik Indonesia. Mungkin dengan adanya pentas ini nggak berpengaruh, ya, cuma apa salahnya kami mencoba memengaruhi agar politik di Indonesia bisa lebih baik,” ungkapnya dalam sesi wawancara.
Dipilihnya judul “Sidang Para Setan” juga sengaja dipertahankan karena dianggap memberi penegasan pada judul itu sendiri. Penggunaan konsep sidang dinilai lebih tegas karena memiliki batasan aturan dan instruksi yang jelas ketimbang sekadar rapat atau musyawarah. “Saya juga mikir karena memang (pementasan ini) dari awal tidak seperti sidang pada umumnya, kan. Cuma kalau dibuat (nama) “Musyawarah Para Setan” atau “Rapat Para Setan”, menurut saya, di situ tidak ada penegasan dari judul itu, tetapi kalau menggunakan nama “Sidang Para Setan” itu memang dari awal punya peraturan dan instruksi yang lainnya yang ada di dalam “Sidang Para Setan” itu sendiri,” ungkap Abie.
Selain menjadi ajang yang membawa pesan kritik sosial, pementasan yang diselenggarakan oleh Teater Q juga menjadi ajang eksperimen estetika dalam mencoba keluar dari kejenuhan aliran naskah realis. Eksperimen nonrealis ini sengaja dipilih guna menghadirkan atmosfer panggung yang lebih segar dan dinamis.
Proses penggarapan karya ini pun tak lepas dari dinamika internal. Sebagai seorang sutradara pemula, tantangan terbesar yang dihadapi Abie adalah menyatukan chemistry para pemain. Kesibukan perkuliahan para aktor membuat jadwal latihan bersama sulit disinkronkan, di samping harus mengelola mood para pemain di panggung.
Kendati menghadapi tantangan dalam menyatukan chemistry serta menyelaraskan jadwal latihan di tengah padatnya jam kuliah para mahasiswa, pementasan tetap berjalan dengan sukses. Para aktor sukses membawakan karakter mereka dengan energik. Pentas ini menjadi bukti keberanian mahasiswa dalam menyuarakan suara kritis melalui ruang seni pertunjukan.
