Mencari Adisaroh

Catatan Riset Yusril Ihza F.A

Di lingkungan sekitar, kerap saya menjumpai peristiwa kematian seseorang yang sulit dipahami oleh nalar, menjadi misteri tak terpecahkan, sehingga pertanyaan-pertanyaan atas hal tersebut bergelimangan di kepala saya, dan sudah barang tentu karena didorong rasa penasaran yang kuat, saya tidak berhenti untuk mencari jawabannya. Dalam proses pencarian inilah saya mulai bersinggungan dengan tragedi – tragedi dibalik kematian seseorang baik tragis maupun ironi. Selain pengalaman empiris, keterbacaan secara referensial di bidang sastra, maupun kesukaan saya pada benda pusaka tengah menggiring saya menuju salah satu tombak yang kerap disinggung oleh beberapa pecinta pusaka. Alih-alih bicara pusaka tombak, suatu narasi cerita lisan mengalir begitu saja, menceritakan awal keberadaan pusaka tombak ini, sampai pada titik dimana pusaka tombak ini ternyata menjadi penanda suatu zaman, yaitu zaman awal kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Panembahan Senopati. Pusaka tombak ini seperti menjadi saksi adanya ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’ sedang bertumpang tindih saling berebut legitimasi eksistensinya sebagai suatu kebenaran mutlak atas terjadinya suatu peristiwa di masa lampau. Pusaka tombak ini bernama ‘Kyai Baru Klinting’.

Di saat rasa penasaran terus mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh soal tombak Kyai Baru Klinting, maka saat itu pengembaraan saya dimulai. Saya bertemu dengan buku drama berjudul Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam drama, Pram lebih menyoroti perdebatan tokoh dan peristiwa perang. Pusaka tombak Kyai Baru Klinting dinarasikan sebagai pendekar sakti yang mampu memporak-porandakan strategi lawan. Adapun tokoh penting yang mengalami antara ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’ adalah Ki Ageng Mangir Wanabaya III. Dari karya Pram, entah kenapa saya menemukan jalan buntu, dimana pembacaan lain saya atas Babad Ki Ageng Mangir hampir tidak jauh berbeda dengan apa yang ditulis Pram. Hanya saja, Pram lebih melogikakan peristiwa, sedangkan Babad cenderung menggunakan bahasa sanepan – bahasa kias atau metafora. Berulang kali melakukan pembacaan kritis, sampailah saya menemukan titik dimana apa yang ditulis Pram tidak lebih dari penafsiran atas cerita Babad Ki Ageng Mangir dan pertunjukan ketoprak yang menggunakan bahasa jawa krama, bedanya adalah, Pram menulisnya menjadi naskah drama, menggunakan dialek yang mempertahankan unsur puitis pada setiap dialog tokohnya. Selebihnya, Pram menulis ulang, lalu mendekonstruksi metafora menjadi logika universal agar bisa diterima oleh masyarakat umum.

Buku karya Pram ; <em>www.goodreads.com</em>

Singkat cerita, Ki Ageng Mangir Wanabaya III adalah pewaris tanah perdikan Majapahit di pedukuhan Mangir. Pedukuhan Mangir hanyalah desa, bukan kerajaan, maka oleh Mataram yang saat itu adalah kerajaan baru, Mangir diminta untuk tunduk dan mengakui kekuasaan Mataram. Oleh karena Ki Ageng Mangir muda merasa tidak memiliki kepentingan, terjadilah perang dingin tak berkesudahan antara Mangir dengan Mataram. Ketika Mataram mulai kehabisan strategi untuk menguasai pedukuhan Mangir, pihak Mataram mengirim rombongan wayang dan tayub ke Mangir sebagai telik sandi.

Tembok keraton Mataram

Dokumentasi periset bersama abdi dalem

Salah satu penari tayub adalah Pambayun, putri dari Panembahan Senopati Mataram. Penyamaran berhasil, Ki Ageng Mangir tertarik lalu menikah dengan Pambayun, keduanya ternyata saling mencintai. Lambat laun seluruh rahasia terbongkar, Pambayun yang sedang hamil tua diketahui sebagai telik Mataram oleh Ki Ageng Mangir. Sebab Ki Ageng Mangir adalah pendekar pilih tanding dan sangat mencintai istrinya, Ki Ageng Mangir berniat menghadap ke Panembahan Senopati sebagai menantu, meminta restu karena sudah menikahi Pambayun. Akan tetapi, siasat berjalan lancar, kedatangan Ki Ageng Mangir ke Mataram menjadi peristiwa sejarah yang sampai saat ini masih terbilang misteri, dimana dalam berbagai versi kedatangan rombongan Mangir menjadi petaka bagi Ki Ageng Mangir. Pun tidak hanya soal kematian, tetapi tragedi kematian Ki Ageng Mangir yang dapat dikatakan sebagai seusatu ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’, karena sesampainya Ki Ageng Mangir menghadap untuk sembah sujud ke Panembahan Senopati, kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan di batu selo gilang, selain itu sebagian tubuhnya dikuburkan di dalam benteng, sebagian lain di luar benteng Mataram sebagai penanda bahwa Ki Ageng Mangir adalah musuh sekaligus menantu.

Cerita inilah yang terus diproduksi menjadi sastra lisan tanpa memiliki sumber yang jelas. Sehingga saya juga tidak begitu yakin atas apa yang ditulis dalam Babad Ki Ageng Mangir, yang ditulis Pram, maupun yang dipentaskan berkali-kali di atas panggung Ketoprak. Dari hal demikian, saya memutuskan untuk terjun langung ke lapangan. Saya menyusun jadwal, materi, refrensi, dan rute perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta untuk mendatangi langsung beberapa lokasi yang berkaitan dengan persitiwa antara Mataram dan Mangir. Saya melakukan riset selama berbulan-bulan lamanya, pendekatan secara empiris maupun metafisik – melakukan ritual dan laku spiritual tertentu – saya lakukan sebagai bagian dari proses riset untuk melihat, merasakan, menemukan, memahami, menganalisis, mengkritisi dan menciptakan suatu karya. Pada saat berada di lokasi, saya menemukan banyak hal yang sebelumnya tidak saya temukan di tulisan Pram, di Babad, maupun di pertunjukan Ketoprak. Penemuan itu lebih merujuk pada sudut pandang pemahaman saya ketika mendapati cerita lisan yang dituturkan langsung baik masyarakat awam maupun tokoh masyarakat di tempat-tempat yang sedang saya singgahi.

Selo Gilang

Pada akhirnya, saya mulai memahami bahwa meskipun dalam cerita lisan memiliki banyak versi dari berbagai penutur tetapi hal tersebut bukanlah menjadi persoalan, karena banyaknya versi merupakan bagian dari variasi. Akan tetapi yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bagaimana cara penulis memandang, menyikapi, mengkritisi, menginterpretasi dan menginovasi data yang didapatkan dari berbagai variasi cerita tersebut. Perbedaan yang paling menonjol adalah versi kematian Ki Ageng Mangir. Dalam drama Pram, kematian Ki Ageng Mangir dinarasikan dengan adegan pertarungan, di beberapa pertunjukan ketoprak kematian Ki Ageng Mangir ditusuk oleh seorang patih, di Babad kepala Ki Ageng Mangir dipecahkan di batu selo gilang oleh Panembahan Senopati lalu tubuhnya dikubur di dalam dan di luar benteng Mataram. Akan tetapi setelah saya melakukan perjalanan riset, saya menemukan versi lain, dimana Ki Ageng Mangir sebenarnya masih hidup, ia dibawa lari oleh Demang Tangkil di daerah Sorolaten. Versi ini lebih menyatakan bahwa kisah kematian Ki Ageng Mangir yang dipahami dan diproduksi masyarakat hingga saat ini hanyalah sebuah penanda peristiwa sekaligus strategi politik untuk mengukuhkan feodalisme Mataram, sehingga identitas Ki Ageng Mangir sebagai pendekar sakti yang mampu mengimbangi kekuatan Panembahan Senopati benar-benar dilenyapkan keberadaannya, lalu dibunuh karakternya, dicap sebagai musuh sekaligus menantu untuk menandai bahwa Panembahan Senopati mampu mengalahkan musuh terkuat sekaligus masih memiliki nurani sebagai manusia, tetapi bagi saya itu hanyalah siasat licik yang dipercaya masyarakat jawa setempat hingga saat ini.

Pesarehan Adisaroh Pambayun

Selain itu, dalam perseteruan Mangir dan Mataram, ada bagian yang hampir belum sepenuhnya disentuh lewat kerja kreatif penulis kita – seperti Pram misalnya – secara tekstual, yaitu soal perempuan, soal Pambayun. Pambayun dalam perseteruan ini berada di posisi sebagai alat politik kekuasaan, yaitu subjek yang dihegemoni serta dieksploitasi oleh Ayahnya sendiri, Panembahan Senopati Raja Mataram. Oleh karena itu, kini saya berusaha membaca peristiwa Mangir dan Mataram dari sudut pandang Pambayun. Adapun sudut pandang Pambayun tidak sekadar membicarakan perang antara Mangir dan Mataram atau duel maut antara Ki Ageng Mangir dan Panembahan Senopati, tetapi lebih ke hal yang paling sederhana, yang berada di wilayah domestik. Persoalan domestik ini tidak sekadar membahas kasus percintaan, curahan hati perempuan, atau mengungkap sisi perempuan Pambayun secara mendetil, tetapi lebih pada hubungan perempuan dengan alam – istilah akademisnya, ekofeminis. Hubungan kausalitas tersebut juga tidak sekadar membahas bagaimana perempuan merawat dan menjaga alam, tetapi juga berkaitan dengan persoalan mentalitas kebudayaan kota (keraton) dan desa yang berujung pada superioritas dan inferioritas.

Sendang Kasihan; Tempat pemandian Adisaroh

Dari hal demikian saya tertarik menulis naskah lakon dengan menjadikan Pambayun sebagai tokoh sentral atas perseteruan Mangir dan Mataram, karena saya pikir – sebagai korban eksploitasi Perempuan – hanya Pambayun yang bisa menggugat sekaligus membongkar feodalisme Mataram. Di sisi lain, transformasi hijrahnya Pambayun dari keraton (kota) ke desa – pedukuhan Mangir – dapat menekan pandangan umum inferioritas desa terhadap superioritas keraton (kota). Penekanan ini dikonstruksi sebagai bentuk resistensi subjek yang terdominasi – seperti Perempuan – terhadap feodalisme, hegemoni, dan eksploitasi yang dilakukan semena-mena oleh kaum yang berupaya melegitimasi dirinya sebagai pemegang kekuasaan. Dengan begitu, melalui naskah lakon yang saya beri judul Adisaroh “Pengakuan Cinta Putri Mataram di Bumi Mangir” tidak sekadar menjadi naskah yang akan dipentaskan di atas panggung, tetapi lebih dari itu, naskah ini memiliki visi tersurat maupun tersirat dalam mengonstruksi kesadaran bersama atas pentingnya kita memandang manusia sebagai manusia melalui gagasan pokok yang terkandung dalam teks lakon perihal kesetaraan dan kesederhanaan dalam kehidupan bersosial, berbangsa, dan bernegara.

Dari hal demikian saya tertarik menulis naskah lakon dengan menjadikan Pambayun sebagai tokoh sentral atas perseteruan Mangir dan Mataram, karena saya pikir – sebagai korban eksploitasi Perempuan – hanya Pambayun yang bisa menggugat sekaligus membongkar feodalisme Mataram. Di sisi lain, transformasi hijrahnya Pambayun dari keraton (kota) ke desa – pedukuhan Mangir – dapat menekan pandangan umum inferioritas desa terhadap superioritas keraton (kota). Penekanan ini dikonstruksi sebagai bentuk resistensi subjek yang terdominasi – seperti Perempuan – terhadap feodalisme, hegemoni, dan eksploitasi yang dilakukan semena-mena oleh kaum yang berupaya melegitimasi dirinya sebagai pemegang kekuasaan. Dengan begitu, melalui naskah lakon yang saya beri judul Adisaroh “Pengakuan Cinta Putri Mataram di Bumi Mangir” tidak sekadar menjadi naskah yang akan dipentaskan di atas panggung, tetapi lebih dari itu, naskah ini memiliki visi tersurat maupun tersirat dalam mengonstruksi kesadaran bersama atas pentingnya kita memandang manusia sebagai manusia melalui gagasan pokok yang terkandung dalam teks lakon perihal kesetaraan dan kesederhanaan dalam kehidupan bersosial, berbangsa, dan bernegara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *