Produksi Teater

Dalam rangka merapihkan arsip berproses, Studio Daluang menuangkan hasil riset menjadi beberapa macam eksplorasi kekaryaan. salah satunya yakni menuangkannya dalam panggung pertunjukan. Meski terkesan baru muncul di permukaan, sejatinya tim yang memproduksi pertunjukan teater sudah berkecimpung cukup lama berproses dalam bidang tersebut. Studio Daluang identik membawakan produksi demi produksi dengan personel baru. Baik tim produksi, panggung, artistik, maupun aktor-aktornya. Hal tersebut dikarenakan setiap menggelar produksi, Studio Daluang membuka lebar pintu berupa ruang kolaborasi yang biak bagi talenta baru dari berbagai cabang keilmuan yang nantinya menghasilkan karya seni baru yang autentik.

Amit-Amit Jabang Bayi

MUSIM PERAYAAN KEMANUSIAAN” Begitulah kami menyebut setiap produksi teater (Amit-Amit Jabang Bayi) yang kami selenggarakan setiap maksimal 2 tahun sekali. Siklus keramat ini selalu menjadi bayangan yang menyeramkan sekaligus menggembirakan bagi setiap orang yang pernah berkontribusi penuh pada setiap project kolektif Komunitas Teater Kaki Langit Surabaya yang sekarang menjadi bagian dari Yayasan Studio Daluang.

Istilah ‘Amit-Amit Jabang Bayi’ sendiri, mengambil dari istilah lokal masyarakat jawa untuk menyebut satu peristiwa luar biasa yang terjadi pada kehidupan bermasyarakat yang notabene peristiwa tersebut tidak berharap terjadi pada subjek tersebut. Kekaryaan yang liar dan identik inilah yang kami ambil sebagai motivasi untuk karya unik dan otentik yang kami buat setiap produksinya.

“Sebuah kehormatan tersendiri bagi kami, berhasil membangun pandora dalam sejarah bersama kalian. -Menunggu Badai Reda-

tim produksi (08-11-2018)
HIKAYAT BADAI DAN KOTA KENDI

Malam itu (10/11/21), udara sangat dingin. Namun, kehangatan hadir melalui kebersamaan dari beberapa kelompok teater yang meramaikan Jatim Art Forum (JAF) di Kota Batu.

Kami membawakan fragmen pertunjukan hasil dari kerja riset alih wahana antologi puisi karya Rizki Amir dengan judul Biografi Kendi. Secara keseluruhan, konsep pertunjukan disajikan dengan memanfaatkan kolaborasi antara bentuk teater tradisi dan teater eksperimental.

Berangkat dari babak yang seringkali luput dalam cerita Ramayana, yakni fragmen Sinta Obong, pertunjukan ini membaca ulang sekaligus mendekonstruksi arti sebuah kesetiaan. Nilai tradisi yang telah beredar di masyarakat menjadi satu dinding besar yang dihadapkan pada generasi masa kini. Pementasan ini menjadi suatu sajian yang mempertanyakan eksistensi perempuan menghadapi gelombang postmodernitas.