Merekam Ingatan 4 Dekade: Dedikasi Dr. Melani Setiawan Menjaga Nyawa Seni Rupa Indonesia

untitled design (59)

SURABAYA — Di tengah hiruk-pikuk Selasar Balai Budaya Lantai 2 Balai Pemuda, Surabaya, puluhan

pasang mata terhipnotis oleh cerita perjalanan panjang seni rupa tanah air pada Minggu (20/9/2026). Siang itu, ruang diskusi hangat berdurasi dua jam dipenuhi mahasiswa, praktisi, hingga pecinta seni yang hadir untuk menyimak proses di balik terbitnya buku Indonesian Art World: Dr. Melani W. Setiawan’s Archive (1977–2022).

Buku berbobot 2 kilogram yang terbagi dalam tiga volume ini bukan sekadar tumpukan kertas. Di dalamnya tersimpan lebih dari 4.000 rekam visual yang dirawat secara telaten oleh Dr. Melani Setiawan selama 45 tahun, sebuah karya megah yang sejatinya dijadwalkan menyapa publik pada gelaran ART SUBS tahun lalu.

Penyelamat di Tengah Dahaga Pengarsipan

Lahirnya buku ini menjadi oase segar bagi dunia seni rupa nasional yang selama ini kerap meraba sejarahnya sendiri akibat minimnya pencatatan. Gallerist sekaligus art dealer, Eddy Prakoso, yang turut mengawal penerbitan buku ini bersama Sri Sasanti Galeri, mengungkapkan betapa vitalnya peran arsip mandiri ini.

Bagi Eddy, ketekunan Dr. Melani memotret ekosistem seni rupa selama empat setengah dekade secara mandiri adalah aksi yang sangat langka. Foto-foto di dalamnya tidak hanya merekam karya, tetapi lengkap dengan catatan rinci mengenai peristiwa, nama tokoh, hingga tanggal kejadian.

“Buku ini meliputi periode yang sangat panjang dalam ekosistem seni rupa Indonesia selama 45 tahun, dilakukan seorang diri tanpa imbalan, dan kontennya sangat fokus,” ujar Eddy di sela acara.

Dedikasi 10 Tahun dan Sentuhan ‘Ibu Para Seniman’

Meskipun tidak berlatar belakang kurator atau pengkritik seni, kecintaan mendalam Dr. Melani terhadap seni rupalah yang menggerakkannya. Akademisi dan kritikus seni rupa, Asmudjo J. Irianto, menggambarkan Dr. Melani sebagai sosok pengembara yang menyerap sekaligus mengembalikan energi kreatif ke dalam medan seni Indonesia.

“Arsip Bu Melani ini menjadi sumber mentah yang sangat potensial untuk dikelola dalam membangun medan seni Indonesia, khususnya dari sisi infrastruktur manusianya. Beliau layak disebut sebagai ‘Ibu para Seniman Kontemporer Indonesia’,” ungkap Asmudjo.

Di balik kemegahan buku ini, ada kerja keras tak kasatmata yang memakan waktu kurasi hingga 10 tahun. Dr. Melani harus memilah lebih dari 100.000 foto pribadi dan hanya mengambil sekitar 4 persen materi terbaik untuk dibukukan.

“Susah ya memilih foto karena seleksi ketat dan penataan foto harus cocok, jadinya susah,” kenang Dr. Melani sambil tersenyum.

Lewat proses kurasi yang runut dimulai dari mendata perupa yang belum terarsip hingga menyusun indeks nama buku ini kini berdiri sebagai monumen pengingat bahwa sejarah seni rupa Indonesia dibentuk oleh jalinan hubungan humanis yang tak boleh dilupakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *