Menangkap Cahaya di Atas Kanvas: Pameran Tunggal Lukisan SBY di Surabaya

untitled design (61)

SURABAYA, Pameran tunggal lukisan karya Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang digelar di VOZA Tower, Surabaya, sukses menarik perhatian masyarakat dan penikmat seni. Pameran yang berlangsung pada 16–29 September 2026 ini menghadirkan sekitar 95–100 karya SBY dan terbuka untuk masyarakat secara gratis.

Pameran tersebut mengangkat tema “Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono.” Dalam karya-karya SBY cahaya tidak hanya dipandang sebagai unsur visual, tetapi juga dimaknai sebagai metafora harapan. Berbagai lukisan yang ditampilkan merekam pengalaman, perjalanan, kenangan, serta pandangan SBY terhadap kehidupan. Karya-karyanya juga memperlihatkan ketertarikannya terhadap lanskap, seperti laut, awan, dan pemandangan alam.

Secara tematik, karya-karya SBY dalam monografi pameran dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni Lanskap Memori, Lanskap Sosial-Politik, dan Lanskap Tatapan Langsung (On The Spot). Ketiga kategori tersebut menggambarkan pengalaman personal, respons terhadap persoalan sosial-politik, serta hasil pengamatan langsung SBY terhadap berbagai lanskap.

Salah satu pengunjung asal Surabaya, Airin, yang datang bersama ibunya mengaku terkesan dengan pameran tersebut usai melihat langsung ragam karya lukis yang dipajang. Sebagai pencinta seni yang juga menggemari aktivitas melukis sejak kecil, Airin menuturkan bahwa karya berlatar pemandangan alam khususnya pantai menjadi favoritnya. Salah satu lukisan yang paling mencuri perhatiannya adalah pemandangan Pantai Klayar. “Lukisannya bagus sekali, warna-warnanya terasa hidup. Apalagi saya pribadi pernah berkunjung ke Pantai Klayar, jadi terasa makin berkesan,” ungkapnya.

Selain tema pantai, lukisan berjudul More in the Dark Night juga memberikan kesan tersendiri baginya. Menurut Airin, nuansa malam dan warna gelap pada lukisan tersebut justru memberikan suasana yang tenang dan menyejukkan bagi yang melihatnya.

Pengunjung lainnya, Bogi Ilham Ramadan yang berprofesi sebagai arsitek sekaligus memiliki latar belakang pendidikan ilmu politik, membagikan pandangannya mengenai karya-karya SBY. Menurutnya, lukisan SBY menyajikan fenomena visual yang unik jika dibandingkan dengan seniman Indonesia ternama lainnya. “Kalau pelukis lain seperti Hendra Gunawan, kita bisa langsung tahu ‘Oh ini lukisannya Hendra Gunawan.’ Tapi kalau Pak SBY, kita tidak bisa langsung menebaknya. Beliau bukan sosok yang egosentris,” ujar Bogi saat ditemui di pameran.

Bogi menilai ketidakberadaan identitas visual yang terkesan mengikat dalam lukisan SBY mencerminkan karakter aslinya selama menjabat di pemerintahan. Berbeda dengan seniman atau arsitek individualis yang cenderung memaksakan selera pribadi pada karyanya, SBY justru tampil lebih menampung beragam pandangan.

Dengan menghadirkan karya-karya yang berangkat dari pengalaman personal hingga persoalan politik dan sosial, pameran ini memperlihatkan perjalanan SBY dalam mengekspresikan gagasan melalui seni lukis sekaligus membuka ruang bagi masyarakat Surabaya untuk mengenal sisi artistiknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *