Penulis: Martabati Zulfa
SURABAYA, Ketidakadilan hukum terhadap korban bukan hanya isu semata, melainkan hal tersebut tak jarang seringkali dijumpai ketika korbannya adalah seorang perempuan. Melalui hal itu, Artistique Théâtre sebuah grup pertunjukan asal Paris, Perancis menggelar pementasan yang menampilkan beberapa lapis cerita yang berbeda dari setiap tokoh, serta isu ketidakadilan hukum terhadap perempuan, sekaligus mengulik kembali kasus pemerkosaan dan pembunuhan seniman Pippa Bacca.
Pementasan ”Le Filles De La Mer” atau Daughters of the Sea yang digelar pada pada Jumat malam (7/8/2026) di gedung Graha Sawunggaling UNESA, Artistique Théâtre mementaskan naskah drama kontemporer dengan memadukan unsur drama, tari, dan pertunjukan dalam satu pementasan. Dalam pentas tersebut menampilkan salah satu cerita mengenai 3 sosok perempuan, Meduse, Meira, dan Morgane yang terseret ke persidangan atas kasus pembunuhan terhadap seorang pria yang memperkosa dan membunuh perempuan asal Sinegal, Morphée. Melalui tokoh Morphée, ”Le Filles De La Mer” merepresentasikan kisah Pippa Bacca seorang seniman sekaligus aktivis perdamaian asal Italia yang diperkosa dan dibunuh ketika ia menumpang kendaraan dengan mengenakan gaun pengantin pada tahun 2008 di Turki.
Lucile Cocito salah satu pemeran memberikan pendapatnya yang dibantu oleh Pramenda Krishna tentang kekerasan yang terjadi pada perempuan. ”Sayangnya, para perempuan di dunia ini banyak menjadi korban dari kekerasan seksual di dunia, tidak hanya di Perancis saja. Semua jenis kekerasan, psikologis, fisik, ekonomi, seksual. Ketika seorang perempuan bermigrasi atau berpindah negara lain itu yang dihadapi itu banyak sebelum berangkat saat perjalanan itu juga bisa menghadapi kejadian seperti itu,” ungkapnya dalam sesi wawancara.
Dalam pentasnya Artistique Théâtre tidak hanya menyajikan cerita dengan tangan kosong, tapi turut serta menghadirkan gambaran alam secara nyata diatas panggung. Dengan bentuk panggung arena yang melingkar, Artistique Théâtre membawa dan menggunakan tanah, dan air sungguhan di tengah-tengah panggung sebagai peroperti. Hal tersebut mejadikan pertunjukan terasa lebih nyata dan dalam lewat percikan air dan jejak tanah yang tertinggal di sekitar panggung.
Dalam sebuah wawancara Trisakti mengatakan bahwa pentas ”Le Filles De La Mer” membawa perspektif baru dalam menyampaikan ide dan makna. ”Ternyata untuk menyampaikan ide untuk ke penonton itu banyak hal yang bisa kita lakukan. Hal-hal yang tidak pernah kita lakukan yang memberikan makna tentang alam itu ternyata bisa menyatu, keren banget. Alam itu kan juga ada tanah, air, udara, dan ternyata digabungkan dengan sebuah ide dari realitas permasalahan itu menarik,” ujarnya.

