News

IMG 20260719 WA0015 1024x576

Daluang Creator Academy Hadirkan Ruang Berkesenian di SDN Tanah Kali Kedinding 1, Bangun Kepercayaan Diri dan Karakter Siswa

SURABAYA – Komitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan kreativitas diwujudkan melalui kerja sama antara Yayasan Studio Daluang Surabaya dan SDN Tanah Kali Kedinding 1 Surabaya dalam penyelenggaraan Daluang Creator Academy (DCA) Ekstrakurikuler Teater. Program yang telah berjalan sejak tahun ajaran 2025/2026 ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi potensi seni peran, melatih keberanian tampil di depan publik, sekaligus membangun kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan berempati melalui proses berkesenian. Kepala SDN Tanah Kali Kedinding 1 Surabaya, Dra. Denok Ribut Tunaitugas Triwiludjeng, mengapresiasi kolaborasi tersebut karena mampu menghadirkan pengalaman belajar yang belum dimiliki sekolah sebelumnya. “Terima kasih kakak-kakak dari Studio Daluang. Tahun kemarin kami memang sempat bekerja sama dengan Daluang. Kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk berimprovisasi. Selama bekerja sama dengan Daluang, alhamdulillah anak-anak sangat antusias. Dari yang awalnya tidak bisa menjadi bisa, mereka belajar memerankan berbagai karakter dan berani menampilkan bakatnya,” ujarnya. Menurut Denok, pembelajaran teater memberikan pengalaman yang jauh lebih luas dibanding sekadar latihan pementasan. Anak-anak belajar memahami beragam karakter kehidupan, mengasah kemampuan berekspresi, hingga membangun rasa percaya diri yang berdampak positif terhadap perkembangan pribadi mereka. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran Daluang Creator Academy menjadi solusi sekaligus membuka kesempatan bagi sekolah untuk menemukan bibit-bibit talenta baru di bidang seni pertunjukan. “Kami ingin punya kader. Dari SD ini kami mencari bibit agar anak-anak mengetahui kemampuan dan potensinya. Harapannya kerja sama ini bisa berlanjut sehingga semakin banyak siswa yang memperoleh kesempatan berkembang,” tambahnya. Denok juga mengapresiasi pendekatan para fasilitator Studio Daluang yang dinilainya mampu membangun kedekatan emosional dengan peserta didik selama proses latihan. “Kakak-kakak yang mendampingi anak-anak sangat luar biasa. Mereka telaten, jiwanya benar-benar masuk kepada anak-anak sehingga anak-anak merasa senang selama mengikuti latihan,” tuturnya. Sementara itu, Co-founder Yayasan Studio Daluang, M. Alief Sahrul A., menjelaskan bahwa Daluang Creator Academy dirancang bukan hanya sebagai kelas teater, melainkan ekosistem pembinaan kreatif yang berkelanjutan. Program dilaksanakan selama empat bulan sehingga peserta memiliki waktu yang cukup untuk berkembang secara bertahap.”Program Daluang Creator Academy kami rancang selama empat bulan agar proses pembinaan tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang konsisten sehingga potensi anak-anak dapat tumbuh secara optimal,” jelas Alief. Ia menambahkan, Studio Daluang berupaya mendampingi sekolah tidak hanya dalam pelatihan seni, tetapi juga melalui publikasi berbagai kegiatan pendidikan sehingga praktik-praktik baik yang dilakukan sekolah dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat.Melalui Daluang Creator Academy, Yayasan Studio Daluang berharap semakin banyak sekolah memperoleh akses terhadap pendidikan seni yang berkualitas. Seni pertunjukan dipandang sebagai media efektif untuk menanamkan karakter, keberanian, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan bekerja sama yang menjadi bekal penting bagi peserta didik di masa depan. Kolaborasi antara Yayasan Studio Daluang Surabaya dan SDN Tanah Kali Kedinding 1 Surabaya ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui ruang-ruang kreatif yang menyenangkan. Ketika sekolah, komunitas seni, dan para pendidik berjalan bersama, peserta didik tidak hanya belajar menjadi pemeran di atas panggung, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang percaya diri, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

Daluang Creator Academy Hadirkan Ruang Berkesenian di SDN Tanah Kali Kedinding 1, Bangun Kepercayaan Diri dan Karakter Siswa Read More »

IMG 20260714 WA0025 1024x577

Sukses Kembangkan Film dan Teater, MIM 25 Surabaya Siap Lanjutkan Kolaborasi Daluang Creator Academy Bersama Yayasan Studio Daluang

SURABAYA – Keberhasilan program Daluang Creator Academy (DCA) yang digagas Yayasan Studio Daluang Surabaya bersama MI Muhammadiyah 25 Surabaya (MIM 25 Surabaya) menjadi bukti bahwa pendidikan seni mampu menjadi media efektif untuk mengembangkan karakter, kreativitas, sekaligus potensi peserta didik. Berawal dari produksi film kolaboratif pada 2024, kerja sama tersebut kini berkembang menjadi pembinaan berkelanjutan melalui ekstrakurikuler teater yang terus menunjukkan dampak positif bagi sekolah. Kepala MIM 25 Surabaya, Ferry Rismawan, M.Pd.I., mengungkapkan bahwa kolaborasi bersama Yayasan Studio Daluang menghadirkan pengalaman baru yang berharga bagi seluruh warga sekolah. Menurutnya, produksi film yang melibatkan guru dan siswa tidak hanya menjadi sarana promosi sekolah, tetapi juga media penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik. “Ada sebuah pengalaman baru yang kami dapatkan ketika bekerja sama dengan Studio Daluang. Tahun 2024 kami berusaha membuat sesuatu yang baru, yaitu sebuah film. Film tersebut melibatkan banyak siswa dan guru serta memuat penanaman nilai-nilai karakter. Ini menjadi pengalaman yang luar biasa bagi kami, tidak hanya untuk promosi sekolah, tetapi juga sebagai media syiar bahwa MIM 25 Surabaya tidak hanya mengedepankan akademik, tetapi juga pembentukan akhlak,” ujar Ferry. Menurut Ferry, antusiasme peserta didik terhadap program tersebut sangat tinggi. Bahkan setelah film diluncurkan, banyak siswa yang ingin kembali terlibat dalam produksi berikutnya. Dampak yang paling nyata adalah lahirnya ekstrakurikuler teater sebagai tindak lanjut dari program perfilman yang telah dijalankan bersama Yayasan Studio Daluang. “Ketika film sudah diluncurkan, banyak siswa bertanya kapan membuat film lagi. Ternyata film itu memancing bakat dan minat siswa untuk mengembangkan diri. Dari situlah kemudian muncul ekstrakurikuler teater di MIM 25 Surabaya yang kini sudah berjalan selama dua tahun dan telah beberapa kali tampil dalam berbagai kegiatan promosi sekolah,” jelasnya. Keberhasilan tersebut mendorong MIM 25 Surabaya untuk memperkuat kemitraan dengan Yayasan Studio Daluang. Ferry menegaskan bahwa sekolah telah menyiapkan langkah-langkah lanjutan agar kolaborasi dalam bidang perfilman dan teater dapat terus berlanjut.”Insya Allah akan ada episode selanjutnya bersama Studio Daluang. Kami sudah menyiapkan beberapa materi anggaran yang insya Allah siap dikerjasamakan. Kami menunggu manfaat terbaik dari program-program berikutnya,” ungkapnya. Ia juga memberikan apresiasi terhadap profesionalisme tim Studio Daluang sekaligus berharap kualitas pendampingan terus ditingkatkan. “Studio Daluang sudah menunjukkan bahwa studio ini layak untuk terbang, membawa kami, MIM 25 Surabaya, terbang jauh melalui dunia perfilman maupun teater. Yang perlu terus ditingkatkan adalah profesionalitas dan komunikasi, karena dengan komunikasi yang baik setiap tantangan akan selalu menemukan solusi,” tambah Ferry. Sementara itu, Pimpinan Yayasan Studio Daluang, Yusril Ihza F.A., menyampaikan bahwa Daluang Creator Academy dirancang sebagai ruang pembelajaran kreatif yang mengintegrasikan seni pertunjukan, perfilman, dan pendidikan karakter. Menurutnya, keberhasilan kolaborasi dengan MIM 25 Surabaya menjadi contoh bahwa seni mampu menjadi media pembelajaran yang relevan bagi generasi muda.”Daluang Creator Academy tidak hanya mengajarkan teknik bermain teater atau membuat film, tetapi juga membangun keberanian, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, komunikasi, dan karakter peserta didik. Ketika sekolah memberikan ruang bagi kreativitas, anak-anak akan menemukan potensi terbaik yang mungkin selama ini belum mereka sadari,” ujar Yusril. Ia menambahkan bahwa lahirnya ekstrakurikuler teater di MIM 25 Surabaya merupakan indikator keberhasilan program yang sesungguhnya. Menurutnya, tujuan utama DCA bukan sekadar menghasilkan karya film atau pementasan, melainkan menciptakan ekosistem kreatif yang dapat terus hidup di sekolah. “Kami sangat mengapresiasi komitmen MIM 25 Surabaya yang ingin melanjutkan kerja sama ini. Ke depan kami berharap kolaborasi tidak hanya menghasilkan karya-karya film dan teater yang lebih baik, tetapi juga melahirkan lebih banyak talenta muda yang percaya diri, kreatif, dan memiliki karakter kuat. DCA hadir sebagai mitra sekolah untuk membangun pendidikan yang menyenangkan sekaligus berdampak,” kata Yusril. Melalui sinergi antara Yayasan Studio Daluang Surabaya dan MIM 25 Surabaya, Daluang Creator Academy membuktikan bahwa seni bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler, melainkan investasi pendidikan yang mampu membentuk karakter, memperkuat budaya kolaboratif, serta membuka ruang bagi peserta didik untuk berkembang secara utuh. Komitmen kedua belah pihak untuk melanjutkan kerja sama menjadi langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran kreatif yang semakin relevan dengan kebutuhan generasi masa depan. Penulis: Muhammad Azhar Adi Mas’ud (diedit tata bahasa oleh AI Chat GPT)

Sukses Kembangkan Film dan Teater, MIM 25 Surabaya Siap Lanjutkan Kolaborasi Daluang Creator Academy Bersama Yayasan Studio Daluang Read More »

Mangir 1c 1024x576

Mencari Adisaroh

Catatan Riset Yusril Ihza F.A Di lingkungan sekitar, kerap saya menjumpai peristiwa kematian seseorang yang sulit dipahami oleh nalar, menjadi misteri tak terpecahkan, sehingga pertanyaan-pertanyaan atas hal tersebut bergelimangan di kepala saya, dan sudah barang tentu karena didorong rasa penasaran yang kuat, saya tidak berhenti untuk mencari jawabannya. Dalam proses pencarian inilah saya mulai bersinggungan dengan tragedi – tragedi dibalik kematian seseorang baik tragis maupun ironi. Selain pengalaman empiris, keterbacaan secara referensial di bidang sastra, maupun kesukaan saya pada benda pusaka tengah menggiring saya menuju salah satu tombak yang kerap disinggung oleh beberapa pecinta pusaka. Alih-alih bicara pusaka tombak, suatu narasi cerita lisan mengalir begitu saja, menceritakan awal keberadaan pusaka tombak ini, sampai pada titik dimana pusaka tombak ini ternyata menjadi penanda suatu zaman, yaitu zaman awal kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Panembahan Senopati. Pusaka tombak ini seperti menjadi saksi adanya ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’ sedang bertumpang tindih saling berebut legitimasi eksistensinya sebagai suatu kebenaran mutlak atas terjadinya suatu peristiwa di masa lampau. Pusaka tombak ini bernama ‘Kyai Baru Klinting’. Di saat rasa penasaran terus mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh soal tombak Kyai Baru Klinting, maka saat itu pengembaraan saya dimulai. Saya bertemu dengan buku drama berjudul Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. Dalam drama, Pram lebih menyoroti perdebatan tokoh dan peristiwa perang. Pusaka tombak Kyai Baru Klinting dinarasikan sebagai pendekar sakti yang mampu memporak-porandakan strategi lawan. Adapun tokoh penting yang mengalami antara ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’ adalah Ki Ageng Mangir Wanabaya III. Dari karya Pram, entah kenapa saya menemukan jalan buntu, dimana pembacaan lain saya atas Babad Ki Ageng Mangir hampir tidak jauh berbeda dengan apa yang ditulis Pram. Hanya saja, Pram lebih melogikakan peristiwa, sedangkan Babad cenderung menggunakan bahasa sanepan – bahasa kias atau metafora. Berulang kali melakukan pembacaan kritis, sampailah saya menemukan titik dimana apa yang ditulis Pram tidak lebih dari penafsiran atas cerita Babad Ki Ageng Mangir dan pertunjukan ketoprak yang menggunakan bahasa jawa krama, bedanya adalah, Pram menulisnya menjadi naskah drama, menggunakan dialek yang mempertahankan unsur puitis pada setiap dialog tokohnya. Selebihnya, Pram menulis ulang, lalu mendekonstruksi metafora menjadi logika universal agar bisa diterima oleh masyarakat umum. Singkat cerita, Ki Ageng Mangir Wanabaya III adalah pewaris tanah perdikan Majapahit di pedukuhan Mangir. Pedukuhan Mangir hanyalah desa, bukan kerajaan, maka oleh Mataram yang saat itu adalah kerajaan baru, Mangir diminta untuk tunduk dan mengakui kekuasaan Mataram. Oleh karena Ki Ageng Mangir muda merasa tidak memiliki kepentingan, terjadilah perang dingin tak berkesudahan antara Mangir dengan Mataram. Ketika Mataram mulai kehabisan strategi untuk menguasai pedukuhan Mangir, pihak Mataram mengirim rombongan wayang dan tayub ke Mangir sebagai telik sandi. Dokumentasi periset bersama abdi dalem Salah satu penari tayub adalah Pambayun, putri dari Panembahan Senopati Mataram. Penyamaran berhasil, Ki Ageng Mangir tertarik lalu menikah dengan Pambayun, keduanya ternyata saling mencintai. Lambat laun seluruh rahasia terbongkar, Pambayun yang sedang hamil tua diketahui sebagai telik Mataram oleh Ki Ageng Mangir. Sebab Ki Ageng Mangir adalah pendekar pilih tanding dan sangat mencintai istrinya, Ki Ageng Mangir berniat menghadap ke Panembahan Senopati sebagai menantu, meminta restu karena sudah menikahi Pambayun. Akan tetapi, siasat berjalan lancar, kedatangan Ki Ageng Mangir ke Mataram menjadi peristiwa sejarah yang sampai saat ini masih terbilang misteri, dimana dalam berbagai versi kedatangan rombongan Mangir menjadi petaka bagi Ki Ageng Mangir. Pun tidak hanya soal kematian, tetapi tragedi kematian Ki Ageng Mangir yang dapat dikatakan sebagai seusatu ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’, karena sesampainya Ki Ageng Mangir menghadap untuk sembah sujud ke Panembahan Senopati, kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan di batu selo gilang, selain itu sebagian tubuhnya dikuburkan di dalam benteng, sebagian lain di luar benteng Mataram sebagai penanda bahwa Ki Ageng Mangir adalah musuh sekaligus menantu. Cerita inilah yang terus diproduksi menjadi sastra lisan tanpa memiliki sumber yang jelas. Sehingga saya juga tidak begitu yakin atas apa yang ditulis dalam Babad Ki Ageng Mangir, yang ditulis Pram, maupun yang dipentaskan berkali-kali di atas panggung Ketoprak. Dari hal demikian, saya memutuskan untuk terjun langung ke lapangan. Saya menyusun jadwal, materi, refrensi, dan rute perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta untuk mendatangi langsung beberapa lokasi yang berkaitan dengan persitiwa antara Mataram dan Mangir. Saya melakukan riset selama berbulan-bulan lamanya, pendekatan secara empiris maupun metafisik – melakukan ritual dan laku spiritual tertentu – saya lakukan sebagai bagian dari proses riset untuk melihat, merasakan, menemukan, memahami, menganalisis, mengkritisi dan menciptakan suatu karya. Pada saat berada di lokasi, saya menemukan banyak hal yang sebelumnya tidak saya temukan di tulisan Pram, di Babad, maupun di pertunjukan Ketoprak. Penemuan itu lebih merujuk pada sudut pandang pemahaman saya ketika mendapati cerita lisan yang dituturkan langsung baik masyarakat awam maupun tokoh masyarakat di tempat-tempat yang sedang saya singgahi. Pada akhirnya, saya mulai memahami bahwa meskipun dalam cerita lisan memiliki banyak versi dari berbagai penutur tetapi hal tersebut bukanlah menjadi persoalan, karena banyaknya versi merupakan bagian dari variasi. Akan tetapi yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bagaimana cara penulis memandang, menyikapi, mengkritisi, menginterpretasi dan menginovasi data yang didapatkan dari berbagai variasi cerita tersebut. Perbedaan yang paling menonjol adalah versi kematian Ki Ageng Mangir. Dalam drama Pram, kematian Ki Ageng Mangir dinarasikan dengan adegan pertarungan, di beberapa pertunjukan ketoprak kematian Ki Ageng Mangir ditusuk oleh seorang patih, di Babad kepala Ki Ageng Mangir dipecahkan di batu selo gilang oleh Panembahan Senopati lalu tubuhnya dikubur di dalam dan di luar benteng Mataram. Akan tetapi setelah saya melakukan perjalanan riset, saya menemukan versi lain, dimana Ki Ageng Mangir sebenarnya masih hidup, ia dibawa lari oleh Demang Tangkil di daerah Sorolaten. Versi ini lebih menyatakan bahwa kisah kematian Ki Ageng Mangir yang dipahami dan diproduksi masyarakat hingga saat ini hanyalah sebuah penanda peristiwa sekaligus strategi politik untuk mengukuhkan feodalisme Mataram, sehingga identitas Ki Ageng Mangir sebagai pendekar sakti yang mampu mengimbangi kekuatan Panembahan Senopati benar-benar dilenyapkan keberadaannya, lalu dibunuh karakternya, dicap sebagai musuh sekaligus menantu untuk menandai bahwa Panembahan Senopati mampu mengalahkan musuh terkuat sekaligus masih memiliki nurani sebagai manusia, tetapi bagi saya itu hanyalah siasat licik yang dipercaya masyarakat jawa setempat hingga saat ini. Selain itu, dalam perseteruan Mangir dan

Mencari Adisaroh Read More »